English French German Spain Italian Dutch Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Pengumuman

Forum kita yang baru
dengan domain yang kita beli sendiri
Kunjungi http://f.indocrossdresser.com/vanilla/

Ingin Belanja
Bra, CD, Underware, Dress, Makeup
dan semua perlengkapan wanita?
Klik disini
     waktu aku smp aku tinggal bersama om ku disebuah kota aku baru lulus sd  di sebuah desa di ajak sama om agar masuk smp di  kota tempatnya bekerja.akupun diberikan sebuah kamar yang terletak di dekat dapur rumah omku mempunyai 3 kamar saja selain kamar om dan tante ada kamar kak yulli  yang merupahkan keponakan dari tanteku. kak yulli waktu itu sudah semester 3  di sebuah ptn di kotaku. aku sangat bahagia  sekali sebab selama 6 bulan  berjalan keluarga om ku sangat baik  kepadaku begitupun kak yulli
kak yulli sudah anggap aku sebagai adiknya  aku sangat senagng dengan perlakuan ka yulli apalagi di sangat cantik tubuhnya semok dia agak pendek tapi  yang membuat aku bahagia adalah tetek ka yulli begitu besar, pada suatu hari aku kebelet pipis tapi kak yulli lagi pakai kamar mandi dan lagi mandi aku terpaksa tuggu setelah kak yulli  keluar langsung aku masuk dengan cepat ke dalam kamar mandi selagi aku pipis aku melihat BH  kak yulli  lagi di gantung  di kamar mandi darah jantanku mulai berdesis melihat bh dlam ukuran besar dan wangi badan orang yang pakai tergantung di sana akupun mengambil bh tersebut dan memegangnya di stu trlihat ukuran bh ternyata ukuran bh kak yulli 36 c entah apa yang masuk membisikiku sehingga akupun mulai memakai bh kak yulli dan aku berfantasi bahwa dirriku kak yulli sambil meremas-remas bh berkawat dan bermotif seperti kebaya itu sambil aku kocok penisku dan spermanya kutumpakan kedalam cdnya setelah selesai aku keluar dan aku mersakan ingin sekali menjadi seperti kak yulli miempunyai payudara besar dan memakai baju yang sangat ketat. mulai saat itu akau selalu masuk ke kamar mandi setelah kak yulli mandi agar aku bisa  berfantasi dengan bhnya bh kaka yuli bentuk dan motifnya berbeda tapi ukuran nya sama 36 c dan berkawat. suatu hari ada pernikahan keluarga tanteku di kampung sehingga om dan tante di temani kak yulli ke kampung selama satu hari esok siang baru mereka pulang sehingga akun di tugaskan untuk menjaga rumah aku senag sekali mendengarnya setelah mereka pergi kira2 jam 8 pagi kebetulan hari itu lagi libur aku masuk ke ke kamar ka yuli dan membuka lemari pakaianya ternyata banyak bh dan cd g string di sana  jantungku berdegup kencang tanganku gemetaran aku merasa 2 hari aku bakalan berfantasi jadi wanita  akupun teringat akan tanteku segere aku kemar tanteku dan membuka di lemari pakaian dalam dan melihat banyak juga bh tanteku dan g stringnya di lemari pakaianya aku lihat juga stoking karena kebetulan tanteku kerja di sebuah bank. hari itu akumencoba menjadi kak yulli aku pakai bh dan cd serta  baju ketatanya bh aku masukin tiga sekaligus duanya sebagai payudara dan satunya fungsi tetap sebagai bh sehingga aku kelihatan montok alias semok aku kemudian pakai celana ketatnya kak yulli dan sepatu hak tinggi punya tanteku kemudian aku berfantasi sambila nonton flim porno sampai sore  dengan menggunakan pakaian kak yulli dari pagi sampai sore kontolku  mengeluarkan pejunya  3 kali karena aku onani sambil berfantasi,pada malam hari setelah makan aku mencoba jadi tanteku dengan memakai bh tante ukuran 36 b lebbih kecil dari kak yulli dan memakai blazer tante serta stoking  aku seperti kariawan bank beralan lenggak lenggok di dalam rumah sendirian untuk menutupi rambutku aku sngaja menggunakan jilbab,malam itu aku satu kali mengelluarkan peju  dan aku pun tertidur setelah menaggalkan baju tante aku tidur hanya mengenakan bh tante dan cd nya tante diatas tempat tidur yang penuh dengan bh kak yulli.
keesokan harinya aku  mengemblikan semua ketempatnya dan menungu kedatangan omku dari kampung setelah paengalaman waktu itu aku selalu melakun cding tanpa sepengetauan om sek dan aku baru tau kalo ada orang sepertiku di bumi ini setelah perkenmbangan internet
catatan" SETIAP KALI AKU MELIHAT WANITA TETEK GEDE AKU SELALU INGIN MENGAMBIL BH NYA"
sampai sekarang aku menjadi maniak bh, aku ingin bercerita lagi tentang pengalamanku sampai saat ini tapi mungkin besok atw lusa ini sebagai perkenalanku dengan teman2 cdr buat admin semoga aku bisa jadi member!,,,,,hehehehehhe please
terima kasih semuanya!.....................
Masih di salon Tante Susi, aku mendengarkan sebuah cerita menarik dari Tina. Tina adalah salah seorang pegawai Tante Susi. Tina merupakan seorang hair stylist dan penata rias kesayangan Tante Susi. Dia dulunya adalah seorang cowo normal seperti aku. Dia menceritakan masa lalunya sampai bagaimana ia bisa bekerja di salon. “Dulu aku ditinggal oleh papah dan mamahku.” Tina memulai ceritanya. “Papah dan mamah meninggal karena kecelakaan, Tante Susi adalah sahabat mamah. Karena tidak ada keluarga yang menerima aku, akhirnya Tante Susi memutuskan untuk merawat aku.” kata Tina mengingat masa lalunya. “Ia merawat aku sejak kelas 5 SD hingga aku SMP. Ketika aku mau memilih masuk SMA, tante Susi menyarankan aku agar masuk SMK, tujuannya adalah agar aku dapat memperoleh keahlian khusus di sana. Aku pun melihat daftar jurusan-jurusan

­ yang terdapat di SMK bersama Tante Susi. Mulai dari otomotif, teknik mesin, teknik elektro, akuntansi, dan yang paling menarik perhatian Tante Susi adalah jurusan kecantikan. Saat itu Tante Susi menyarankan aku untuk memilih jurusan tersebut agar aku dapat membantunya di salon. Sebenarnya aku agak keberatan namun aku merasa tidak enak sama Tante Susi karena selama ini ia telah banyak merawat aku. Aku meminta waktu kepada Tante Susi untuk berpikir. Tante pun mengiyakan.”, Tina kemudian berhenti sejenak lalu ia kembali melanjutkan, “Keesokan harinya aku melihat pekerjaan di salon banyak berhubungan dengan wanita-wanita cantik. Itu juga yang menjadi motivasiku, kupikir di SMK Kecantikan nanti pasti ada banyak wanita-wanita cantik. Aku pun datang kepada Tante Susi dan mengatakan bahwa aku bersedia untuk masuk ke sana. Tante Susi pun terlihat bahagia mendengar keputusanku. Akhirnya kami pergi mendaftar dan saat pengumuman penerimaan siswa baru aku diterima di sana.” Tina mengambil segelas air dan kemudian meminumnya. Ia terlihat seperti wanita sungguhan. Dengan menggunakan baju tanpa lengan dan rok pendek, ia terlihat lebih feminim. “Saat ospek semuanya berubah. Ospek di SMK dibagi menjadi 2 tahap. 
 Tahap pengenalan lingkungan dan masa adaptasi siswa.” Tina tiba-tiba melanjutkan ceritanya. “Ketika hari pertama aku masuk ke sana, aku melihat kakak kelasku sangat galak. Peraturan pertama adalah ‘Tidak peduli latar belakang kalian apa, kalian adalah satu kesatuan, kami tidak mau membeda-bedakan­ siapa kalian, pokonya kalian satu’” Tina mencoba menirukan gaya kakak kelasnya. “Nah, kamu tau ga salah satu aturan yang mereka terapkan selama ospek adalah mereka masih menggunakan seragam SMP sampai masa pelantikan. Aku sih oke” aja tapi ternyata kakak kelas tersebut memanggilku dan mengatakan peraturan ini berlaku untuk pria dan wanita. Kamu diharuskan menggunakan rok SMP dan juga menggunakan make up. Tujuannya agar kamu terbiasa dengan benda-benda yang berhubungan dengan wanita. Mendengar peraturan tersebut aku pun langsung lesu. Parahnya lagi, kami tidak diperkenankan untuk membawa baju ganti, jadi dengan kata lain rok tersebut harus dipake dari rumah. Aku pulang ke rumah dan menceritakan semuanya ke Tante Susi. Tapi tante justru hanya menertawakan saja dan berjanji akan membantu.
 Beberapa hari sebelum ospek dimulai tante mengajakku ke pasar untuk mencari rok smp. Tante membelikanku 2 buah rok SMP. Yang satu adalah rok pendek, dan yang satu lagi rok panjang rample. Tante juga mengajakku untuk membeli kerudung warna putih dari bahan satin. Hari ospek pun tiba, lalu aku memakai rok pendek SMP. Tante melihat ada yang salah, payudaraku tidak terlihat, ia kemudian membawa bra dan memasangnya di dadaku. Aku merasa risih, tapi belum cukup sampai di situ tante melanjutkan dengan bedak dan lipstik di wajahku. Aku pun berangkat untuk ospek. Pada hari jumat aku menggunakan rok SMP panjang lengkap dengan kerudung yang sudah dibeli oleh Tante Susi. Selama 2 bulan aku memakai rok ke sekolah. Akhirnya masa ospek berakhir dan aku terbebas dari rok. Begitu pikirku, namun ternyata SMK Kecantikan tetaplah SMK Kecantikan. Selama 3 tahun sekolah aku selalu berhubungan dengan baju wanita dan makeup. Aku dituntut untuk tampil cantik. Sekalipun aku adalah seorang pria sejati.”
“Setelah masa ospek berakhir, aku berpikir sudah selesai aku diperlakukan sebagai seorang wanita. Ternyata itu belum selesai. Selama 3 tahun sekolah di sana aku selalu berhubungan dengan pakaian wanita dan dituntut untuk tampil cantik. Sekalipun aku adalah seorang pria sejati.” kata Tina menceritakan masa-masa SMKnya. “Selesai masa ospek, aku dipanggil oleh salah seorang guru. Ternyata dia adalah bagian kesiswaan. Guru tersebut menerangkan bahwa selama sekolah nanti aku akan selalu berhubungan dengan tata busana, tata rambut, dan tata rias. Dia kemudian menyarankan untuk memanjangkan rambutku seperti wanita, agar memudahkan dalam pelajaran praktek. Sebagai siswa pria aku diijinkan memiliki rambut panjang dengan catatan, aku ke sekolah menggunakan rok layaknya seorang wanita.

 Wajahku langsung pias mendengar peraturan tersebut. Tapi guru tersebut memberiku semangat karena semua ini untuk tujuan yang baik supaya aku terbiasa. Aku pun bersedia mengikuti aturan tersebut. Aku menceritakan peraturan tersebut kepada Tante Susi dan Tante kemudian membelikan rok SMA yang pendek dan yang panjang untuk aku gunakan sehari-hari. Hari demi hari aku lalui. Aku selalu ke sekolah menggunakan rok dan mulai terbiasa menggunakan rok. Rambutku pun tumbuh mulai panjang. Tante Susi selalu membantuku untuk menata rambut. Aku mulai terlihat seperti wanita ketimbang pria. Pada saat ujian praktek, aku kebagian tema wanita kantoran. Aku dan pasanganku harus bergantian saling mendandani. Hari itu aku menggunakan blazer dan rok warna hitam, tidak lupa aku memakai sepatu high heels. Kami bergantian saling mendandani dan akhirnya kami mendapatkan nilai yang baik. Begitu lulus aku diminta Tante Susi untuk membantu di salonnya. Awalnya aku membantu dengan berpenampilan sebagai seorang pria, tapi entah kenapa mungkin karena selama 3 tahun selalu berpenampilan sebagai seorang wanita aku merasa risih menggunakan pakaian pria. Aku pun menceritakan keluhanku kepada Tante Susi, Tante Susi mempersilahkan aku untuk berpenampilan sebagai wanita jika aku memang nyaman. Akhirnya semenjak saat itu aku selalu tampil sebagai seorang wanita.”
Perkenalkan namaku adalah Andi. Aku adalah anak paling bungsu dari 2 bersaudara. Kakakku adalah seorang wanita cantik yang merupakan pemiliki sebuah salon di kota Garut. Sedangkan aku tinggal berdua dengan mamahku di Bandung. Semenjak ayah meninggal, kondisi keuangan keluarga kami mulai kacau balau. Semula Kakak yang menjadi tulang punggung, namun setelah menikah Kakak kemudian ikut suaminya ke Garut. Alhasil tinggal aku dan mamaku yang harus berjuang untuk melanjutkan hidup. Sebelum pergi ke Garut Kakak menitip pesan kepadaku agar aku mau mencari pekerjaan untuk membantu Ibu. Ia kemudian mengenalkanku dengan seorang waria cantik bernama Susi. Susi merupakan salah satu pemilik salon besar di Kota Bandung. Ia salah satu potret waria sukses dalam bisnis salon. 


Aku membuat janji dengan tante Susi pada hari Jumat untuk bertemu di salonnya. “Masuk” katanya. Aku pun masuk dan sepintas melihat-lihat beberapa pegawainya sedang melayani pelanggan. Dia kemudian menyuruhku masuk ke ruang kerjanya. Di sana aku ditanya beberapa pertanyaan seputar pengalamanku bekerja dan juga keahlianku. Setelah itu tantu Susi menjelaskan mengenai apa saja yang menjadi tugasku nanti. Di akhir perbincangan tante Susi bertanya, “Bagaimana kamu sudah mengerti??”. “Mengerti Tante..” jawabku. Tante Susi kemudian kembali bertanya, “Satu hal lagi, kamu siap bekerja dengan menggunakan pakaian wanita??” mendengar pernyataan tersebut aku langsung terkejut dan kebingungan. “Sudah Tante duga kamu pasti kaget, semua pegawai Tante adalah wanita dan waria, Tante ga mau ada pegawai pria di sini. Makanya nanti kamu pake baju wanita saja yah.” Aku hanya kebingungan mendengar pernyataan Tante Susi. “Begini saja, supaya terbiasa, mulai senin nanti kamu pake hot pants dulu aja, nanti klo udah mulai enakan kita coba pake rok sama dress. Gimana?? Di rumah kamu ada baju bekas Kakak kamu kan??” Tante Susi coba melanjutkan. “Nanti Tante bilang deh sama Mama kamu supaya kamu dibantuin. Biar keliatan lebih cantik.” kata Tante Susi sambil tersenyum. Kami pun mengakhiri pembicaraan hari itu. Aku pulang sambil kebingungan apa yang harus aku perbuat. Saat pulang ke rumah Mama bercerita kalau Tante Susi telah memberitahukan mengenai pekerjaan yang akan diberikan kepadaku. Aku pun hanya tertunduk malu mendengar penjelasan dari Mama.


Tiba saatnya hari senin. Mama membangunkanku tepat jm 7 pagi. Aku kemudian mandi dan menuju kamarku. Di sana Mama sudah menunggu. Aku disuruh menggunakan celana dalam wanita. Mama lalu menolongku memakai bra. Setelah itu aku disuruh memakai stocking, hotpants dan kaos ketat warna putih. Semuanya adalah pakaian Kakakku. Setelah selesai menggunakan semua pakaian tersebut, Mama kemudian mendandaniku. Berbagai perasaan bercampur aduk mulai dari malu hingga rasa penasaran. Tanpa disadari, kemaluanku berdiri ketika aku didandani menjadi wanita. Setelah semua selesai, aku memakai sandal hak tinggi milik Kakak. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku keluar dengan dandanan seperti ini. Apa kata tetanggaku jika melihat aku seperti ini. Tapi Mama malah tertawa dan memberiku semangat. Aku pun keluar sambil tertunduk malu, beberapa tetanggaku melihat aku dengan wajah keheranan, beberapa lainnya malah menggodaku. Aku terus berjalan dengan cepat meski sandal ini membuat langkahku terhambat. Aku naik kendaraan umum, tapi anehnya sepertinya mereka melihat aku seperti wanita biasa. Aku pun bercermin dan kagetnya aku melihat betapa cantiknya diriku. Hal ini membuatku sedikit lega. Aku pun tiba di salon dan memulai pekerjaan hari pertamaku. Hari pertama yang sangat mendebarkan tapi menjadi awal dari perjalanan panjangku.


Seminggu pertama bekerja di salon Tante Susi aku mulai terbiasa menggunakan pakaian wanita. Setiap hari aku memakai hotpants yang dipadukan dengan kaos lengan pendek, baju tenktop maupun kaos bertali yang diikatkan ke leher. Hari ini aku memakai hotpants yang dipadukan dengan baby doll. Awalnya memang memalukan dan terasa aneh, tapi aku mulai terbiasa memakai pakaian wanita. Hari ini Tante Susi kembali memanggilku ke kantornya. “Mulai minggu depan, kamu pakai rok atau dress yah..” kata Tante Susi. Aku hanya bisa mengiyakan apa yang dikatakan oleh Tante Susi. Hari Senin berikutnya aku membongkar lemari kakakku dan menemukan sebuah rok pendek warna hitam. Aku kemudian memadukannya dengan kemeja putih dengan bahan satin. Ketika menggunakan rok dan kemeja ini, aku merasakan sesuatu yang nyaman. Aku kemudian mulai belajar berdandan sendiri tanpa bantuan Mama. 

Mama kemudian melihatku berdandan lalu memuji hasil dandananku. Aku pergi ke salon hari itu dengan menggunakan rok dan kemeja satin. Di salon, aku melihat Tante Susi berdiskusi dengan salah satu pegawainya, setelah itu aku disuruh untuk duduk di depan meja rias. Ternyata Tante Susi menyuruh pegawai tersebut untuk menata rambutku. Rambutku disambung sehingga panjangnya sebahu lebih. Aku terlihat lebih feminim.

 Minggu itu aku memakai rok dan dress untuk bekerja. Saat hari Jumat tiba, seperti biasa Tante Susi memanggilku ke kantornya. Tapi tidak biasanya kali ini aku dipanggil saat pagi hari. Ia kemudian menyuruhku untuk duduk di meja rias. aku kembali didandani, kali ini sepertinya lebih serius dari biasanya. Lebih banyak perabotan yang disiapkan. Setelah selesai didandani seorang asisten Tante Susi membawa aku ke ruang ganti. Aku disuruh memakai gaun pengantin. Dari penjelasan asisten Tante Susi, ia menginginkan aku untuk menjadi model dalam buletin yang biasa diterbitkan oleh salon tersebut. Aku pun masuk ke sesi foto. Setelah selesai dengan gaun pengantin, aku memakai gaun malam dari bahan satin berwarna hijau muda, setelah itu terakhir aku disuruh memakai kebaya. Hari itu aku mulai merasakan sesuatu yang menyenangkan ketika berpenampilan sebagai wanita.

Namaku Deni. Aku baru saja masuk SMA 2 minggu yang lalu. Saat ini aku bersekolah di salah satu SMA negeri favorit di Kota Bandung. Sebelumnya aku berasal dari SMP Tasikmalaya. Aku pindah ke Kota Bandung bersama sahabat kecilku. Namanya Rina. Aku dan Rina sudah seperti adik kakak. Keluarga kami pun sudah saling mengenal dengan baik. Di Bandung aku tinggal bersama Tantenya Rina. Kami selalu pergi ke sekolah bersama-sama. Kebetulan kami berada di kelas yang sama. Meski sudah 2 minggu sekolah, tapi adaptasiku terhadap lingkungan yang baru tidak berjalan dengan baik. Aku masih belum mempunyai teman dekat. Terutama teman laki-laki. Mungkin karena aku dan Rina terlalu dekat. Jadinya orang-orang berpikir kami sedang pacaran. Berbeda dengan diriku, Rina orangnya sangat supel dan pandai bergaul.

Rina sudah memiliki banyak teman wanita. Selama 2 minggu ini aku hanya berteman dengan Rina dan teman-teman wanitanya. Di sekolah kami terdapat beberapa kegiatan ekskul. Setiap siswa wajib memilih satu ekskul. Itu membuatku bingung karena dari berbagai demo yang ditunjukkan tidak ada yang membuatku tertarik. Sampai hari terakhir pendaftaran aku masih belum memilih ekskul apapun. Siang itu Rina datang menghampiriku. Dia memarahiku karena aku tidak bergerak untuk mencari ekskul.

 Akhirnya dia menarikku dan mendaftarkanku untuk mengikuti ekskul seni tari bersama dia dan teman-temannya. Aku menolak namun Rina terus memaksa. Alasannya agar Rina tidak sendirian ketika mengikuti ekskul seni tari. Rina memang pandai menari. Sejak SMP dulu dia selalu menjadi penari utama jika ada acara di sekolah kami. Melihat semangat Rina untuk ikut ekskul seni tari, akhirnya aku pun mengiyakan ajakan dia. Minggu depannya ekskul pun dimulai. Aku heran ketika melihat hanya aku satu-satunya pria di ekskul tersebut. Aku pun mendapat sorak sorai ketika aku masuk ke ruangan ekskul. Aku jadi malu, tapi pelatih kami malah menyemangatiku. Akhirnya aku pun mulai berlatih. Hari itu kami mempelajari gerakan tari jaipong. Aku diharuskan bergerak lemah gemulai mengikuti iringan musik.

 Beberapa bulan kami terus berlatih tarian tersebut hingga pada bulan Oktober sekolah mengadakan pentas seni. Ekskul kami diwajibkan untuk menampilkan sesuatu untuk pentas seni tersebut. Pelatih memilih beberapa orang yang ia nilai layak untuk tampil. Aku dan Rina salah satunya. Tanpa berpikir panjang aku hanya mengiyakan permintaan pelatih tersebut. Akan tetapi betapa kagetnya aku ketika beberapa minggu menjelang pentas, diadakan fiting kostum. Ternyata nanti aku akan menari sebagai seorang wanita. Aku harus menggunakan kostum tari wanita. Aku langsung menolak, tapi justru pelatih malah memarahiku dan mengancam akan melapor ke kepala sekolah.

Aku tidak bisa menghindar dan terpaksa mengikuti kemauannya. Hari pertunjukkan pun tiba. Rina menyarankan aku untuk memakai baju dalam dari rumah. Rina meminjamiku tenktop. Namun ia melihat aku tidak memiliki payudara, akhirnya dia memakaikan aku bh dan menyumpalnya agar payudaraku terlihat. Tidak lupa Rina juga meminjamkan celana ketat pendeknya kepadaku. Aku kemudian memakai jaket dan celana panjang. Kami pun berangkat ke sekolah. Setelah tiba di sekolah kami langsung masuk ke ruang ganti. Di sana aku membuka jaket dan celanaku kemudian memakai kostum tariku. Setelah selesai memakai kostum, panitia membantuku memakai make up dan menata rambutku. Itulah pengalaman pertamaku menari sebagai wanita di depan banyak orang.
Suatu ketika aku diminta untuk kembali menari di sebuah pernikahan. Seperti biasa, aku diharuskan memakai gaun perempuan. Aku sudah mulai terbiasa memakai gaun dan juga berdandan sebagaimana wanita. Aku mulai menjaga berat badan dan bentuk tubuhku agar aku tetap terlihat seperti wanita. Hari ini aku memakai gaun warna ungu. Panjangnya selutut, terbuat dari bahan satin. Meskipun aku sudah terbiasa memakai gaun, tapi setiap memakainya aku selalu terangsang karena bahannya yang halus ketika menyentuh kulit. Setelah memakai gaun aku pun mulai didandani. Saat pertunjukan pun tiba. Aku menari dengan sangat baik. Setelah selasai menari, kami biasa berkeliling untuk menikmati makanan yang disediakan. Alangkah kagetnya aku ketika aku melihat papah dan mamahku berdiri di depanku.

 Wajahku langsung pias. Aku tak sanggup berdiri rasanya. Papah menunjukkan wajah yang sangat kesal. Sedangkan mamah terlihat sangat sedih. Aku tidak bisa berkata-kata. Meskipun aku berdandan seperti wanita, tapi tampak jelas mereka mengenaliku. Papah menghampiriku dan berkata, “Selesai acara ini, kamu langsung ikut papah dan mamah ke hotel.” aku hanya bisa mengangguk saja. Selesai acara, aku ikut papah dan mamah ke hotel tempat mereka menginap. Aku masih memakai gaun yang kugunakan tadi. Di mobil tidak ada pembicaraan yang terjadi. Kami masih saling diam satu sama lain. Sesampainya di hotel mamah menyuruhku membersihkan make up yang menempel. Papah dan mamah langsung ganti baju.

Aku tidak bisa ganti baju karena memang tidak membawa baju ganti. Mamah kemudian menyodorkan dasternya. Aku tidak berani menolak dan langsung mengganti gaun yang kupakai dengan daster milik mamah. Setelah itu aku disuruh duduk dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian dengan rasa malu aku pun menceritakan semua yang terjadi. Mulai dari masuk ekskul tari hingga diajak jadi pagar ayu. Papah kemudian menamparku. Dia terlihat sangat kesal. Mamah menangis mendengar ceritaku. “Besok kamu ikut papah dan mamah kembali ke Tasikmalaya.” aku hanya tertunduk mendengar bentakan dari papah. Hari itu aku tidur di hotel. Keesokan paginya aku kembali menggunakan gaun yang kemarin kugunakan. Kami bergegas untuk mengambil barang-barang milikku yang disimpan di rumah tantenya Rina. Mamah menceritakan semuanya kepada Rina, kami kemudian berpamitan. Dalam perjalanan menuju Tasikmalaya mamah dan papah sepertinya sedang merencanakan sesuatu. Sesuatu yang berdampak besar dalam hidupku.

Sore harinya kami tiba di Tasikmalaya. Aku kembali ke kamarku dan tidur untuk semalam. Besok paginya aku disuruh mandi. Setelah selesai mandi, mamah menungguku di kamar. Terlihat mamah menyiapkan pakaian untukku. Sebuah baju dalam lengan panjang warna coklat, baju perempuan, rok panjang, dan kerudung. Aku kemudian melihat mama menyodorkan celana dalam wanita kepadaku. Aku tidak bisa mengelak. Aku langsung memakainya. Kemudian mamah membantuku memakai bra.

Setelah itu aku disuruh memakai baku dalam lengan panjang dan baju luar warna putih. Setelah itu aku memakai rok panjang. Mamah kembali membantuk memakai kerudung. Tidak lupa mamah mendandaniku. Aku sangat malu. Aku kemudian disuruh memakai high heels. Papah sedang berada di mobil. Mamah membawa 2 buah koper dan memasukkannya ke dalam mobil. Aku juga disuruh naik ke mobil. Aku bingung dengan apa yang terjadi. Kami bertiga pergi meninggalkan rumah.

 Aku tidak tahu kemana tujuan kami sampai di suatu tempat mamah menyuruhku turun. Aku melihat sebuah papah dengan judul pondok pesantren. Sepertinya aku akan ditempatkan di pesantren tapi mengapa aku harus berpenampilan seperti wanita. Mamah dan papah kemudian masuk ke kantor dan berdiskusi dengan seseorang di sana. Aku menunggu di luar dan melihat-lihat. Terlihat beberapa wanita sedang membersihkan halaman kompleks tersebut. Beberapa saat kemudian Mamah dan Papah keluar lalu memberikan pesan kepadaku, “Kamu baik-baik di sini yah, nurut sama apa kata guru kamu.

 Papah dan Mamah pulang dulu” kata mamah sambil menitikan air mata. Terlihat papah memeluk mama dan menguatkan mamah yang sedang sedih. Papah kemudian menambahkan, “Kamu mau jadi wanita kan, sekarang kamu harus belajar jadi wanita yang baik.” Aku kebingungan mendengar perkataan papah. Sepertinya mereka salah tanggap dengan apa yang aku ceritakan. Aku berusaha menjelaskan tapi guruku mencoba menenangkan aku. Papah dan mamah kemudian pergi meninggalkanku sendiri. Aku diantar oleh guruku ke kamarku. Aku ditempatkan sendirian, dipisahkan dari yang lain. Guruku menjelaskan peraturan yang harus aku patuhi. Aku hanya mengangguk mendengar semua penjelasannya.

Sudah seminggu semenjak aku tiba di pesantren ini. Setiap hari aku dituntut untuk belajar menjadi wanita yang baik. Aku belajar untuk membersihkan rumah, memasak, mencuci, dan juga aku belajar mengenai sikap-sikap yang harus selalu aku pegang dalam hidup ini. Semua itu kupelajari sambil berpenampilan sebagai wanita. Aku selalu memakai baju lengan panjang, rok panjang dan juga kerudung. Hari sabtu ini merupakan hari yang spesial bagiku. Salah seorang kakak sepupuku akan mengadakan pernikahan. Mamah meneleponku agar aku bisa mengikuti acara pernikahan tersebut. Mamah juga sudah meminta ijin kepada guruku untuk mengikuti acara tersebut. Mamah berjanji akan menjemputku siang hari. Jam 1 Mamah tiba di pesantren ini. Kami tidak langsung pergi, Mamah mengajakku untuk menceritakan kegiatanku sehari-hari. Aku mengajak Mamah jalan-jalan. Aku menceritakan semuanya
 Kamarku, aku belajar mencuci, menyapu halaman, kelas tempatku belajar. Entah mengapa aku menjadi lebih cerewet dari biasanya. Aku merasa jiwa perempuanku seolah tumbuh di tempat ini. Selesai bercerita, kami pun pergi. Kami tidak langsung pulang ke rumah. Kami pergi ke salon langganan Mamah. Aku kaget karena ternyata aku juga dirias. Di sana kami sama-sama merias diri kami. Aku menangis memohon ampun kepada Mamah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku berpenampilan sebagai wanita di depan saudara-saudaraku.

Tapi Mamah tidak menggubris tangisanku. Aku tetap dipaksa untuk didandani. Selesai berdandan, kami kembali ke rumah. Rupanya mamah sudah menyediakan sebuah gaun muslim untukku. Aku lalu memakainya. Kami pun berangkat ke pesta pernikahan tersebut. Sampai di tempat pesta, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Kami bertiga masuk. Aku masuk dengan sangat khawatir. Berbeda dengan Mamah. Mamah terlihat sangat santai. Mamah menceritakan tentang aku kepada tante-tanteku. Tanteku kemudian melihatku dan tersenyum sambil memujiku. “Wah, cantiknya kamu” kata mereka. Aku hanya tertunduk malu. Kejadian tersebut selalu berulang ketika Mamah menemui saudaranya yang lain. Meski begitu aku selalu mengikuti kemana Mamah pergi karena aku sangat takut berada jauh dari Mamah. Aku takut justru terjadi hal memalukan yang lebih parah lagi. Selesai acara Mamah kembali mengantarku ke pesantren. Kalimat penutup malam itu adalah, “Seperti apapun kamu, Mamah bangga punya kamu.” Aku hanya bisa menitikan air mata mendengar perkataan tersebut. 

by auliya shizuka
Akhirnya hari sabtu yang aku tunggu-tunggu tiba juga. Minggu ini sungguh sial. Gara-gara menghindar untuk kena razia rambut di sekolah, malah seminggu penuh aku disuruh pakai rok di sekolah. Kemarin hari jumat adalah hari terakhir masa hukumanku. Kemarin aku pakai rok panjang dan kerudung. Sungguh memalukan. Selama seminggu ini aku tidak berani menghubungi Debby. Begitu pun Debby, ia sama sekali tidak menghubungiku. Pagi ini aku mencoba mengingatkan janji kencan kami. Tapi tidak ada balasan darinya. Ketika makan siang, akhirnya sms yang aku tunggu-tunggu pun tiba. Dia menyuruhku untuk datang ke rumahnya sore ini. Aku sangat girang membaca smsnya itu. Jam 16 sore setelah selesai mandi aku langsung pergi ke rumah Debby. Setelah membunyikan bel, pembantunya menyuruhku menunggu di ruang tamu. Tidak ada siapa-siapa di rumah Debby sore itu. Debby kemudian menemuiku di ruang tamu sambil membawa secangkir teh hangat. "Udah siap??" tanya Debby kepadaku. "Sangat siap.. Kita pergi nonton kan??" jawabku. Debby menganggukan kepala. "Eh, kamu serius ga sama aku??" tanya Debby. "Harus gimana buktiin keseriusan aku??" tanyaku balik. "Klo gitu kita kencan tapi kamu pakai baju aku. Gimana??" Debby seolah menantangku. Aku hanya terdiam malu. Sepertinya Debby berusaha mengejekku karena kejadian aku dihukum guru di sekolah. "Tuh kan kamu ga serius. Aku minta gitu aja kamu ga mau." kata Debby seolah kesal. "Ya udah ayo ayo.." kataku. Aku sudah tidak memikirkan apa-apa lagi, yang penting bisa jalan bareng Debby, begitu yang aku pikirkan. Debby terlihat sangat senang melihat aku tunduk terhadap ancamannya. Aku melihat senyum sumringah di wajahnya. Dia kemudian mengajakku ke kamarnya. Di sana aku disuruh ganti baju di kamar mandi. Debby menyiapkan sebuah gaun terusan warna ungu yang berlengan panjang dan sebuah bra. Aku tidak tau cara memakai bra. Debby membantuku memakai bra. Terlihat dadaku menonjol seperti dada wanita. Debby kemudian memakaikanku kerudung dengan warna yang sama. Ia kemudian mendandaniku. Debby meminjamiku sepatu hak tinggi miliki Ibunya yang ukurannya sama dengan ukuran kakiku. Kami pun pergi ke mall untuk nonton. Kami pergi naik angkot. Di angkot jantungku berdetak sangat kencang takut ada yang mengenaliku sebagai pria. Aku tidak berani berbicara maupun menatap wajah Debby. Debby menenangkanku dengan memegang tanganku. Kami pun turun dan pergi nonton. Selama itu kami tidak saling berbicara. Aku terlalu takut untuk berbicara karena suaraku yang terdengar seperti pria tentu akan menimbulkan keanehan tersendiri. Debby kemudian mengajakku makan. Kami memilih tempat yang sepi di pojokan. "Gimana perasaan kamu??" tanya Debby. "Takut" jawabku singkat. "Tau ga knp aku ngajak kamu kencan pake baju cewe??" aku hanya menggelengkan kepala ketika mendengar pertanyaan Debby. "Abis kamu lucu sih" kata Debby. "Waktu aku liat kamu dihukum pake kerudung, kamu cute banget tau, jadi kepikiran deh ide jail ini. Maap yah" kata Debby. Kami pun melanjutkan perbincangan dengan berbagai cerita mulai dari masa SMP kami hingga menceritakan teman-teman kami di SMA. Setelah selesai makan, aku mengantar Debby pulang. Sampai di gerbang Debby langsung menutup pintu gerbang dengan jailnya. "Kamu pulang gitu aja yah, ga usah ganti baju." Spontan aku kaget dan memohon-mohon kepada Debby untuk membukakan pintunya. Dia hanya tertawa terbahak-bahak melihat aku yang sedang panik. Akhirnya setelah puas mengerjaiku Debby membukakan pintu gerbang. Aku melihat papah dan mamah Debby sedang nonton TV. Kembali aku gemetar menghadapi papah dan mamah Debby. Papah dan mamah Debby hanya tertawa melihatku. "Jadi ini cowo yang kamu ceritain." kata Papah Debby, aku hanya membalasnya dengan senyuman. "Sini ganti baju dulu" Debby menarikku ke kamarnya. Aku pun membereskan kerudung dan gaun yang tadi aku pakai. Tidak lupa Debby membersihkan makeupku. Setelah berganti dengan pakaian pria aku keluar kamar dan ngobrol dengan orang tua Debby. Rupanya Debby sudah menceritakan banyak mengenai aku ke Papah dan Mamahnya termasuk hukuman pakai rok yang aku terima. Setelah selesai ngobrol aku pun pamit pulang. Sungguh kencan yang menyenangkan. Aku beruntung punya wanita sebaik Debby.

after shooting / taping acara Sexophone trans TV, Tema: Crossdressing; INNER, ICC, Indonesian Crossdresser Community
 Masih ingat Julia Robex, sosok transgender yang bermain dalam film 'Mati Muda di Pelukan Janda' beberapa waktu lalu? Nama aslinya Baby Wijaya Nasroen. Yuk, simak kisah hidupnya!

Ditemui di sebuah cafe di kawasan apartemennya di Kuningan, Jakarta Selatan Baby terlihat cantik dengan balutan dress berwarna hijau. Sekilas, wajahnya mirip dengan penyanyi Rebecca. "Iya, banyak sih yang bilang begitu," ujarnya mengawali perbincangan.

Baby mengisahkan, selepas lulus kuliah dari jurusan Desain Grafis Universitas Kristen Petra, Surabaya ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta pada 2008. Ia ingin mandiri dan mengejar cita-citanya.

Setelah setahun menjajal panggung catwalk dan halaman majalah sebagai model, Baby pun mendapat tawaran dari rekannya untuk menjajaki dunia akting 2011 lalu. Ia pun menyambut gembira kesempatan itu.

"Film 'Mati di Pelukan Janda' itu memang film pertama aku. Rasanya senang banget bisa main film. Soalnya aku memang suka dunia entertainment dan aku pengen jadi artis sukses dan membuktikan ke orangtua aku," katanya.


Namun, dunia seni peran ternyata tak semudah yang dibayangkan sosok kelahiran Surabaya, 21 Agustus 1985 itu. Lantaran tak punya pengalaman, ia pun sempat mengalami kesulitan saat berakting.

"Itu pertama susah, apalagi baru pertama kali berhadapan dengan kamera ya," katanya seraya tertawa. "Saat latihan dan di depan kamera itu bedanya 180 derajat. Cuma akhirnya bisalah, dan kebetulan lingkungannya juga mendukung," sambungnya.

Pemilik tinggi 171cm dan berat 52kg itu mengatakan, banyak hal yang ingin dicobanya di dunia entertainment dengan menjadi bintang film sukses atau penyanyi. Soalnya, di situ ia merasa bisa mengekspresikan diri.

"Hanya di dunia entertainment aku bisa mengekspresikan diri dan semua apa yang di hati aku. Aku sih pengen main film lagi dan dapat peran dan film serius biar aku bisa menunjukkan kualitas aku," tukasnya.


Bungsu dari dua bersaudara itu pun berharap masyarakat bisa menerima dan melihat karyanya, bukan sosoknya sebagai transgender. "Banyak hal yang pengen aku coba di dunia entertainment dan aku serius. Aku suka mau bikin gebrakan, sesuatu yang baru dan nggak ada di Indonesia," tandasnya.

Lantas, seperti apa suka-duka Baby sebagai seorang transgender, sebelum dikenal banyak orang lewat layar lebar? Simak artikel hot profil selanjutnya!
Malam itu aku sedang berbaring di atas tempat tidurku, tapi perasaanku sedang kalut, pikiranku sudah tak menentu, sudah satu tahun berlalu semenjak aku mengenal Lucy, kini ia sedang melakukan Kerja Praktek di Malang, dan hendak menyelesaikan skripsinya.

Aku melirik ke jam dinidng di kamarku, pukul 11 lewat 6 menit.
"Huh.. huh.. huh.." nafasku terengah-engah.
Ingin rasanya aku segera terlelap dan tidur, tapi pikiran dan penisku tak dapat diajakkompromi. Selain hawa di kamarku sangat panas, ditambah pikiran-pikiran kotor yang sudah mulaimerasuk ke benakku, rasa gelisah itu terus menyerangku.
"Sudah lama aku tidak melakukannya.." pikirku, "Kenapa sekarang hal ini tiba-tiba muncul lagi dalam benakku..?"

Tak kuasa menahan gejolak jiwa dan rangsangan ini, aku beranjak turun dari atas tempat tidurku. Kudekati kulkas yang berada di sebelah meja tulisku. Kubuka dan kuambil 2 botol Lipovitan dingin dari dalamnya, segara kuminum 2 botol sekaligus. Kemudian aku terduduk di atas kasurku. Ruangan kamar kostku yang tidak begitu luas (hanya 3 x 4 meter) itu terasa amat sesak. Penisku masih sangat tegang, dan biji kemaluanku mulai berdenyut, keringatku mulai bercucuran, tubuhku menjadi Panas.
"Ah.. aku sudah tidak tahan lagi.." pikirku.

Langsung kubuka celanaku, dan kumulai memegang penisku. Aku dapat menggenggamnya hanya dengan tangan kananku. 7 cm panjangnnya dengan diameter 2,5 cm. Kumulai mengelus-elusnya, kemudian meremasnya keras-keras, ah sungguh nikmat rasanya. Tapi hatiku masih merasa risih, karena aku sudah lama sekali tidak melakukan hal semacam ini lagi. Tapi disamping itu, pikiranku yang lain sudah menerawang jauh membayangkan hal-hal yang pernah kunikmati setahun yang lalu.

Aku pun beranjak dari kasurku, sambil tetap memegang penisku aku menuju lemari pakaianku, kubuka, dan segara kuambil bra warna hitam, dan juga stocking hitam. Segara kupakai, dan aku mulai terangsang sangat hebat. Penisku sudah semakin panas, padahal belum kukocok sama sekali, baru kuelus-elus. Seluruh tubuhku juga sudah panas dan tegang. Dengan memakai bra dan stocking warna hitam kesukaanku, aku segera naik ke atas tempat tidur, tak lupa juga aku memakai Durex, karena aku tak mau air maniku membasahi stocking yang kubeli dengan mahal ini.

Segera aku berbaring. Dengan perlahan, aku mulai mengocok penisku, dan sangat perlahan aku sudah mulai merasakan otot-otot pinggangku mulai tegang. Hanya kukocok sekitar 4 menit, aku sudah tak tahan lagi. Ah.., desiran air maniku mengalir dan memuncrat keluar tertahan di Durex yang kupakai dan penisku terasa linu.

Aku masih terengah-engah. Kulihat jam lagi, ternyata sudah jam 12 kurang 10 menit. Dengan keadaan masih lemas, aku beranjak dari tempat tidurku. Kuambil air dingin dari kulkas dan kuteguk segelas.
"Ah.. segar rasanya.." kataku dalam hati.
Kemudian aku mulai berpikiran untuk melanjutkan hal ini, karena barusan aku merasa kurang puas.

Segera kubuka lemari pakaianku, kuambil t-shirt boddypress warna hitam dan rok jeans ketatku, dan segera kupakai. Saat itu aku sedang malas memakai panty, dan durex itu masih melapisi penisku yang masih setengah tegang. Kupakai sepatu favoritku yang terbuka dan dengan tali-tali yang sungguh indah, berhak 8 cm. Tak lupa kupakai wig sebahu.

Aku segera mengambil kunci mobilku, dan aku keluar dari kamar kostku, dan segera kupergi. Saat itu dalam perjalanan hatiku berdebar-debar, sedangkan penisku sudah mulai mengecil. Saat itu tujuanku hanya satu, yaitu jalan Van Deventer.

Kurang lebih 12 menit, aku telah tiba disana. Aku memelankan mobilku sambil melihat-lihat di pinggir jalan. Ketika melihat pada waria yang sedang berdiri di pinggir jalan menunggu orderan, tiba-tiba aku merasa mual.
"Ah.., apakah hal seperti ini yang harus kutempuh.. Aku belum pernah melakukannya dengan waria, aku hanya mengingat pengalamanku bersama Lucy saja.." pikirku.
Dan aku melihat setiap waria yang berdiri disana, tampaknya mereka sudah berumur 24 tahunan. Saat itu aku menjadi tidak berselera, karena pikirku, "Wah.. masa aku ngelakuin ini ama mereka, mana kagak ada yang muda lagi..!"

Sambil terus menjalankan mobilku dengan pelan, aku memperhatikan mereka. Sebagian dari mereka melambai-lambaikan tangan mereka ke arah mobilku, ada juga sebagian yang sedang memoles wajahnya dengan bedak, ada juga sebagian yang sedang duduk-duduk sambil merokok.

Tiba-tiba kulihat seorang waria yang nampak masih muda sekali, wajahnya pun masih tampak segar, dan tidak di-make-up terlalu menor, hanya polesan tipis dengan Lip color pink. Dia memakai rok putih selutut dan t-shirt putih ketat, dipadu dengan jaket jeans.

Segera kudekatkan mobilku ke tempat dia berdiri. Kubuka kaca jendela dan aku mulai mamandanginya. Merasa ada yang mendekati, dia pun menoleh.
Kemudian bertanya dengan pelan, "Hi.., Mba.. mau saya temenin yach..?"
Dengan masih terheran-heran, aku mengangguk. Dia pun langsung masuk ke mobilku melalu pintu samping kiri.

Setelah duduk di sampingku dia langsung bertanya, "Mau dimana Mba, disini.. atau dimana..?"
Kemudian aku memberanikan diri bertanya dan berkata, "Tunggu dulu, umurmu berapa sich..?"
Mendengar suraraku dia pun sedikit kaget, "Eh.. saya panggilnya kakak.. Mbak.. atau Mas..?" katanya.
"Kakak saja.." sahutku.
"Saya umurnya 17 tahun Kak..!"
"Wah, mengapa kerja ginian..?"
"Terpaksa Kak.., Ortu saya sudah tak ada, selama ini saya tinggal ama Cici saya, tapi sekarang Cici saya sudah menikah.. jadinya jarang ke rumah, kebanyakan ama suaminya, sedangkan sekarang saya perlu biaya buat sekolah, bentar lagi ebtanas lagi.." dia bertutur dengan polos.

"Lalu.., kamu mulai kerja gini sejak kapan..?" tanyaku.
"Ya baru seminggu sich Kak..!" sahutnya.
"Sudah dapet langganan belom..?" lanjutku.
"Yach baru kemaren aja dibooking ama mahasiswa umur 22 tahun, katanya sich dia lagi bosen ke Alketeri, jadinya kesini.." jawab dia.
"Oh iya, kenalan dulu, nama kamu siapa..?" kataku sambil menjulurkan tanganku.
"Mey li Kak..!" sahutnya.
"Aku Ronny, atau Venny juga boleh.." kataku.
Dia pun mengangguk sambil tersenyum.

"Hari ini belom dapet bookingan yach..?"
Dia pun mengangguk, segera kujalankan mobilku.
"Kuajak dia ke kamar kostku saja nih.." pikirku.

Setelah sampai, aku segera mengajaknya masuk.
"Wah.. Kakak sendirian disini..?"
"Iya.., tapi sekarang kan ada kamu.." kataku sambil melirik ke arahnya.
"Mau sekarang aja kak..?" kata dia dengan pasrahnya.
"Wah.. kamu udah makan blom..?" tanyaku.
"Udah sich tadi sore.."
"Nih kalo kamu lapar.." kataku seraya memberinya sebungkus Good Time.
"Nanti aja dech Kak, makasih, sekarang mah kita maen aja yach..!" katanya.

Dia segara berbaring di atas kasurku sambil mulai mebuka t-shirt ketatnya, dan mulai melepaskan roknya. Saat itu kulihat kakinya sungguh indah dan mulus.
"Wah.., kakimu mulus banget..!" kataku.
"Ya.., saya sudah minum pil sejak umur 15 tahun." katanya.
"Wah.., gimana kalo saya yang di bawah..?" kataku.
"Oh, Kakak mau yang di bawah.., tapi saya nggak ahli, saya biasanya pasrah aja di bawah.." sahutnya.
"Ya, kali ini kamu aja yang di atas.., cobain aja dulu..!" kataku.

Dan segera aku berbaring berposisi 69 dengan Meyli. Aku masih memakai pakaian, sedangkan dia hanya memakai bra dan panty saya. Meyli pun segera mengangkat rok saya, dan segera penisku tegak lagi. Dia melepaskan Durex dari situ, dan kemudian dia mulai mengulum penisku. Saat itu perasaanku sudah tidak menentu. Dia dengan nikmatnya menjilati penisku, dan aku pun sudah merasa geli dan tegang.

"Ah.., aku belum beraksi.." pikirku.
Segara kutarik panty yang dia pakai, dan terlihat penisnya kecil dan tidak tegang.
"Kamu nggak 'in' yach..?" tanyaku.
"Wah.. susah Kak.. kayanya testoteronku ketilep.., Kakak bantuin donk..!" pintanya.
Segara aku meremas penisnya dan menariknya sambil kuelus-elus sebentar.
"Lama sekali.." pikirku.

Baru sekitar 5 menit, penis Meyli mulai tegang, dan akhirnya ereksi. Lumayan 6 cm. Saat itu aku ingin memberi kejutan padanya. Dengan menggunakan kedua tanganku, kuremas penisnya dan segera kukocok dengan sangat cepat.
"Ahh.., terus Kak.., terus..!" katanya.
"Kak.., kok nikmat sekali yach..! Belum pernah nich..!" katanya sambil masih asyik mengulum penisku.
"Mey.., yang aku juga donk..!" kataku.
"Oh iya.., bentar ya Kak.."

Dia mulai memegang penisku dengan tangannya yang lembut dan lentik serta kukunya yang rapih.
"Ah.., dia terlalu cantik dan muda untuk jadi seorang pelacur waria, sayang sekali.." pikirku.
Dan dengan gerakan yang mantap, dia mulai menggoyang-goyangkan penisku, dan megocoknya. Tak lama, hanya 4 menit air maniku sudah kemana-mana.
Aku pun berteriak, "Ah.. ah.. nggak tahan..!"
Memang aku ini kalau onani tak pernah bisa tahan lama. Dan akhirnya punyanya Meyli pun keluar. Lumayan lama, sekitar 7 menit, itu pun sudah kukocok dengan cepat dan dengan penetrasi yang baik, sampai-sampai Meyli terengah-engah.

"Hah.. hahh.. udah Kak.. kelluar.. keluar.. " sahutnya.
"Mey.., sini donk..!"
Dia pun berbalik, kali ini kami berhadapan. Dia di atas dan aku di bawah.
"Mey.., tolong lepasin rok Kakak donk..!" pintaku.
"Oke Kak.."
Dan setelah itu, aku melepas bra-nya dan mulai meremas-remas payudaranya yang mungil.

"Ah.., Kak.. terus.. terus..! Wah nggak adil donk..!" sahutnya, "Kakak boleh anal dech.." katanya.
Dan dia pun mulai berusaha memasukkan penisku ke lubang analnya sambil aku terus-terus meremasnya. Keringat kami sudah bercucuran, dan selangkangan serta wajahku pun sudah lengket oleh air mani. Dan dengan gerakannya yang sulit dideskripsikan, dia menaik-turunkan pinggulnya, sehingga penisku yang berada di lubang analnya mulai dipenetrasi kembali. Kami sama-sama sudah lupa daratan pada saat itu. Aku pun sama-sama terengah-engah dan mengerang.

"Peran Meyli sebagai cewek sungguh bisa dibilang jempolan, dia polos dan apa adanya.." pikirku.
Dan setalah lama kami melakukan, akhirnya, "Creett.. creett.. srr.." air maniku mulai muncrat membasahi lubang anal Meyli.
"Hahh.. haah.. hahh.. aahh.." nafasku terengah-engah, begitu pula Meyli.
"Sudah ya Mey, Kakak cape nich..!"
"Iya Kak.., tapi Kakak sungguh beda lo.. Beda kalo bisanyanya Mey dibooking ama yang laen mah cuma ngelampiasin doank.., Mey nggak rasa nikmat. Tapi sama Kakak asyik banget, beda rasanya.." katanya polos.
"Ya sudah, sekarang kita tidur saja, besok kuantar ke rumahmu.., Oke..?" kataku.
Dia pun mengangguk dan segera berbaring di sampingku.

Esok paginya aku bagun duluan. Kulihat Meyli masih terlelap dengan senyuman.
"Wah aku masih memakai bra, stocking dan sepatu.." pikirku.
Saat itu aku segera ke WC untuk membersihkan diriku. Dan setelah selesai, aku segera membangunkan Meyli.
"Mey.., ayoo.., hari ini kamu sekolah nggak..?"
"Iya Kak, sekolah siang jam 12.30.."
"Ayo, kamu mandi dulu. Nich ambil aja bra ama panty yang bersih dari lemari.., yang kamu khan udah kotor dan basah.."
Dia pun mengangguk sambil mengambil dari lemariku, dan kemudian mandi.

Setelah beresm, kami pun berangkat. Dan aku mengantar ke rumahnya. Tak lupa kuberikan satu lembar seratus ribuan kepadanya.
"Wah Kak, banyak amet.. biasanya kalo yang booking sama paling noban.." katanya.
"Ya sudah, nggak apa-apa.. aku ikhlas kok..!" kataku sambil tersenyum.
"Kakak harap kita bisa terus temenan.. Oke..?"
Dia mengangguk.

Setekah turun dari mobil, dia melambaikan tangannya.
"Dadah.., makasih ya Kak.., Meyli puas and happy kemaren.."
Aku pun mengeluarkan kepalaku lewat jendala seraya berkata, "Sama-sama Mey.."
Waktu di mobilku menunjukkan 10.47 AM.
"Hm.., kasian juga dia.. harus kerja seperti itu buat hidup.."

Itulah salah satu alasan mengapa aku suka meneliti tentang kehidupan waria. Aku sendiri termasuk seorang Transvestis/Crossdress.
Memasuki tahun kedua Indri, atas kemauan indra sejak kelas awal dia naik ke kelas 3 SMP dia minta di panggil indri kalau di rumah, akupun membuatkan nama panjang buat dia.. namanya indri cahyaning wulan. Indri memang memiliki bakat transgender dan submissive sejati , pernah suatu waktu ia bilang kepadaku bahwa kalau sudah lulus kuliah dia mau berubah penampilan total, ia mau operasi payudara ... mau total jadi banci katanya. Semenjak saat itu aku "les" kan dia kepada seorang waria kenalanku untuk belajar berdandan dan hal-hal lainnya, tak perlu waktu lama ia sudah totalitas menjadi shemale di rumah, setiap pulang sekolah kalau tidak ada les Indri sudah berganti pakaian dengan pakaian anak perempuan lengkap dengan "payudara", gaya rambutnya bob dengan poni membuat dia bisa mengakali peraturan sekolah sekaligus tetap keliatan cantik dirumah, totalitasnya juga ditunjukkan dengan rutin mengkonsumsi pil KB dan pil hormon perempuan, kini di lemari pakiaannya lebih banyak pakaian perempuan dibandingkan pakaian laki-laki. Perkembangannya sebagai submissive pun luar biasa, semakin dewasa keinginannya sudah semakin banyak sebagai slave, memasuki kelas 3 SMP dia sudah benar-benar menikmati rasa sakit dan siksaan, hmmm what a pleasure for me, ditambah lagi kenyataan bahwa ibu indi tidak pernah kembali ke tanah air karena menikah dengan seorang juragan di tanah seberang, otomatis insri 100% dalam pengawasanku.

Pertengahan bulan Juni, hari itu indri ulang tahun aku membawakan hadiah khusus buat indri, hari itu aku sengaja ijin pulang dari kantor lebih cepat dan kebetulan keesokan hari adalah hari sabtu aku libur, indri pun sudah libur dan sudah lulus dari SMP, Aku memasukkan mobil ke garasi rumah, aku lepas sepatu dan masuk melalui dapur, aku melihat sudah ada bebarapa macam makanan yang di siapkan indri, yups indri juga sudah pintar memasak dan merawat rumah. "Ndri... indri sayang, mas boby dah pulang nih".. kemudian aku mendengar pintu dibuka, indri keluar dari kamar, aku termanggu melihat dandanan indri yang terlihat cantik, sackdress berbahan wol abu2 membungkus tubuhnya... stocking hitam menutupi kakinya yang jenjang dipadu dengan hi heels sol tebal, make up wajahnya pun luar biasa cantik memmbuat dia terlihat sangat anggun. Indri melangkah kearahku kemudian meraih tanganku kanannya dan mencium telapak tanganku. Aku elus kepala indri dan kucium keningnya... "selamat ulang tahun ya sayang... indri cantik banget deh"... "makasih ya mas... kan indri ultah.. ya harus dandan donk.." , jawabnya manja. "mas mandi dulu ya trus kita makan... oh iya ini hadiah buat indri.." kuserahkan sebuah kotak terbungkus kertas kado merah hati dan pita, indri cepat-cepat membukanya ... "wah... bagus-bagus banget maaaas... aku suka scarfnya... bisa dipake dandan nih.. mas beli banyak banget lagi "... pekik indri girang, aku tersenyum.... "iya bisa pake dandan juga bisa pake main iket-iketan.. ".. aku tertawa kecil... indri memandangku dan tersenyum... "jadi tar malem maen pake ini ya mas...."... aku balas senyumannya.."iya ... ya udah mas mandi dulu"..
                                             ---------------
Jam sudah menunjukkan jam 8 malam, indri sedang duduk di pangkuanku, kami  menonton televisi. "Ndri... mau mulai sekarang" tanyaku, "... hmmm, iyah .." indri mengangguk... lalu aku raih sehelai scarf polka dot berwarna merah dari kotak yang sedari tadi terletak di samping kami... aku lipat memanjang scarf tersebut lalu aku gunakan untuk mengikat pergelangan tangan indri, lalu dengan scarf lain aku ikat lengan atasnya.. kemudian aku megikatkan 4 helai scarf menjadi satu untaian panjang aku gunakan sacarf itu untuk mengikat dada indri menjadi satu dengan lengan atasanya... ikatan diatas dan dibawah "payudara" indri membuat "payudarannya' menyembul diantara ikatan... "mas ... tititnya berdiri ya...." ... goda indri ... "iya... kenapa ganjel dipantat indri ya.." candaku ... kemudian aku turunkan indri dari pangkauan lalu dengan beberapa helai scarf lain aku ikat pergelangan kaki dan paha indri.... "siiip udah..." ... ucapku... indri tersenyum ... lalu menggerak-gerakan badannya seperti orang yang ingin melepaskan diri... "hmmm... kenceng mas ikatanya... tapi lembut dikulit... indri suka".. ucap indri... "Ok sekarang disumpel mulutnya ya..." lalu aku meraih sehelai scarf kecil berbahan sutra... aku remas scarf tersebut menjadi gumpalan dan kusumpalkan kedalam mulut indri..  "mmmmhmmmpphh.." suara yang keluar dari mulut indri... lalu dengan scarf yang akulipat memanjang aku cleave gag mulutnya... kuraih sehelai scarf kecil dan kubuat gumpalan lagi, dengan sacrf itu aku sumpal bagian mulu indri yang masih longgar, scarf tersebut tak sepenuhnya bisa masuk kedalam mulut indri karena tertahan cleave gag dan mulut indri pun sudah penuh... kutahan scarf itu dengan jariku.. kemudian dengan scarf lain aku ikat scarf tersebut disekitar bibir dan pipi indri hingga ke belakang kepalanya agar sumpalan yang kedua tak terlepas. kemudian dengan scarf lainnya aku ikat scarf itu menutupi hidung mulut dan dagu indri... "mmmmmhhhhhmmppp" .. indri  merintih dari balik sumpalan mulutnya.. tak cukup sampai disitu aku gunakan sebuah scarf lagi menutupi bagian mulut dan dagu indri, menjadikan berlapis-lapis scarf menutupi wajahnya... lalu aku berdiri agak menjauh dari sofa kemudian memandangi indri... "mmmmhmmmmp... mhhhhmphhhm.." indri meronta pelan sambil memandangiku.. tatapan matanya seperti menggodaku.... kemudian aku angkat tubuh indri dan ku bopong kedalam kamar..

Di dalam kamar aku baringkan indri terlungkup diatas tempat tidur  kemudian dengan scarf juga dia aku ikat hogtie.. "mas siapin dulu alat-alatnya ya... " kemudian aku tinggalkan indri diatas tempat tidur, sempat aku melirik indri meronta-ronta seperti akan melepaskan ikatan.. namun begitulah cara indri menikmati permainan kami. beberapa menit kemudian aku kembali, dengan berbagai macam peralatan ditanganku, seperti dildo, vibrator, buttplug, vaginator, baby oil, penjepit pakaian, kondom dan pemukul dari plastik yang lentur. semua peralatan aku letakkan di meja samping temat tidur kemudian aku lepaskan semua pakian kecuali boxerku. kemudian aku naik keatas tempat tidur dan menindih tubuh indri.. " dah puas merontanya yang ... sekarang menu utamanya ya.." ucapku...,. "hmmmmpphhh.." suara yang muncul dari mulut indri.

aku lepaskan ikatan hogtie indri, ikatan kaki dan pahanya ... kemudian aku lepaskan hi heels dari kaki indri, perlahan tanganku merambat masuk kedalam sackdressnya... "mhhhhmmmpphh.." indri merintih... kemudian aku mulai melepaskan g string yang indri kenakan... setelah itu aku ikat kaki kanan dan kiri indri pada tiang bagian ujung tempat tidur yang terpisah, dengan ikatan yang cukup tinggi menjadikan kaki indri terangkat keatas. selanjutnya aku mulai melucuti sackdress yang indri kenakan, kini indri benar -benar hampir 100% telanjang, hanya stocking hitam yang menempel dibadannya... ikatan dada indri sudah aku lepaskan, dengan scarf itu aku mengikat tangan indri pada bagian atas pangkal tempat tidur,  tangan indri yang terikat dibelakang menjadi tertarik keatas dan memaksa tubuh bagian atasnya pun terangkat. kini posisi indri seperti membungkuk namun dengan kaki mengangkang terangkat keudara dan pantat menempel diatas tempat tidur. 'hmmmmpphhh... mmmhhhhhmpph.." indri merintih dan merontad menikmati ikatan itu. kemudian aku ambil sehelai scarf... dengan scarf itu aku ikat kontol dan buah zakar indri yang sedari tadi sudah ereksi... "hmmmmpphmmm..." indri merintih menikmati setiap lilitan pada kontol dan buah zakarnya.. setelah itu aku mengambil bantal untuk mengganjal pinggul indri, itu membuat pantannya sedikit terangkat sehingga aku bisa melihat lubang anusnya yang terekspos jelas.

Aku berdiri dan berjalan untuk mengambil kabel stop kontak panjang, aku letakkan stop kontak kabel panjang tersebut disamping tubuh indri.. indri hanya melihat aku beraksi sambil sesekali suara 'mhhhmmhhhpp' keluar dari mulutnya. kemudian meja samping tempat tidur aku mengambil beberapa penjepit baju, dengan penjepit itu satu persatu aku jepit beberapa bagian kontol indri .. "mmhhhmmmmppph.. mmmhhhphhhh... mhhhhpppphmmmm".. indri merintih dan meronta cukup kencang ... setelah cukup puas menjepit kontol indri aku kemudian meraih buttplug dari meja, aku oleskan baby oil pada buttplug tersebut lalu perlahan aku jejalkan kedalam lubang anus indri.... "hhhhmmmmmmmmhhhhhhmmmmmmmmmpppphhhh" ... indri merintih panjang seiring buttplug yang  masuk semakin dalam kedalam anusnya... lalu aku beridiri disamping tempat tidur, kini pemukul plastik aku mulai memukul pantat indri... Plaaaak... suara setiap pukulan yang mendarat di pantat indri ... "mhhhmmm.. mhhhmmm ... mhhhmmm".. suara rintihan indri selama aku memukuli pantatnya.. setelah 10 menit pantat indri yang putih kini memerah. Aku menghentikan  memukul pantat indri, kemudian aku duduk disebelah tubuh indri, "indri masuh kuat..?" tanyaku... "hmmmhhhmm.." indri mengangguk.. kemudian aku mulai melepaskan penjepit dari kontol indri... "hmmmmmmmmmhhhhhhppphh" suara rintihan indri setiap aku melepaskan penjepit karena  rasa sakit yang ia rasakan setiap penjepit terlepas dan pembuluh darah yang terjepit mulai teraliri lagi oleh darah menimbulkan sensasi rasa sakit. kemudian aku cabut buttplug dari anus indri kemudian aku ambil dildo elektrik aku tancapkan kabelnya pada stop kontak disamping tubuh indri... setelah aku olesi dengan baby oil.. dildo tersebut aku lesakkan lagi kedalam lubang anus indri.. "mhhhhmmmmmhhhmmmhppphhhh... indri kembali merintih panjang... kemudian aku mengambil vaginator dan kutancapakn lagi kabelnya pada stop kontak, kini aku pasangkan vaginator tersebut pada kontol indri,  kemudian aku mulai meghidupkan kedua alat bantu sex tersebut... aku setel keduanya dengan kecepatan pelan... dildo elektrik mulai bergetar dan berputar pelan dalam lobang anus indri, sedangkan vaginator mulai bekerja meremas-remas kontolnya "... mmhmmmmpph.. mhhhmmmphhh... mhhhhmmmphh.." indri meronta-ronta.. lima menit kedmudian aku naikkan kecepatan kedua alat itu.... "mmmhmhmmhmhmhmhmmh... mhhmhmhmmhmhmhmhm.." indri meronta semakin keras... keringat mulai deras bercucuran dari tubuhnya.. lima menit berikutnya kedua alat itu aku setel dengan kecepatan penuh... "mhmhmhmmhppphmmhmmhmhm... mhmmhmhmhmhmppphnhmm..." indri meronta sejadi-jadinya.... dan kurang lebih 7 menit kemudian... matanya terbelalak ... tubuhnya mengejang dan ia merintih panjang "mmmmmmmmhhhhhhhhhhhhhmmmmmmmmpppphhhhh...." sebelum akhirnya ia lemas... indri orgasme.. kontolnya yang tadi menjulang perlahan lemas dan vaginator pun terlepas.. lalu aku matikan kedua alat tersebut dan satu persatu aku lepaskan dari tubuh indri... aku ambil kondom, aku sobek bungkusnya, kulepaskan boxerku... lalu kupasangkan kondom pada kontolku yang menjulang keras... kemudian aku menyelipkan tubuhku diantara kedua kaki indri yang mengangkang kemudian aku genggam erat pinggul indri dengan kedua tanganku lalu aku mulai sodokkan kontolku kedalam anus indri, aku tak menemukan kesulitan melakukan penetrasi pada lubang anus indri... perlahan aku gerakan pinggulku kedepan dan kebelakang... kontolku bergerak keluar masuk menyodomi indri... "ahhhh... ahh.." aku mengerang karena nikmat... "mhhhhmmmm... mhmmmm...." indri  merintih  lemah dari balik sumpalan mulutnya... kini dia tidak meronta lagi badannya sudah lemas akibat orgasme tadi.. gerakkan pinggulku semakin cepat... "ahhh... ahhh.." ..."mhhmhmhmhmpph... mmmppmhh"... ritme suara yang menggema dikamar kami... tiba-tiba aku hentikan gerakan penetrasiku kemudia perlahan aku tarik kontolku keluar, namun belum sampai ujung kontolku keluar aku dengan cepat melesakkan masuk kontolku sedalam mungkin kedalam anus indri dengan cepat.... Plak suara selangkanganku yang beradu dengan pantat indri.. " hmmmmhhhhhhmpppphh...." indri merintih agak panjang.. aku ulangi gerakkan itu berulang-ulang sampai akhirnya..... "ahhhhhhhhhhhhh".... kontolku berdenyut kencang... maniku muncrat.. aku orgasme... aku tahan sedalam-dalamnya kontolku didalam anus indri ... kubiarkan kontolku berdenyut didalam anus indri sampai pada akhirnya kontoku berhenti berdenyut... kucabut kontolku dari anus indri.. kulingkarkan tanganku pada pinggang indri dan mencium keningnya yang basah...

Semua peralatan sudah aku letakkan lagi disamping tempat tidur, ikatan idri pada ujung dan pangkal tempat tidur sudah aku lepaskan, beberapa scarf yang aku gunakan untuk menyumpal mulutnya juga sudah aku lepaskan, sekarang mulut indri hanya dipenuhi sehelai scarf dan sehelai scarf lagi aku ikatkan menutupi indri mulut dan dagunya. Indri kelelahan.. ia tertidur dalam pelukankan dengan keadaan kaki dan tangan terikat serta mulut tersumpal... jam mulai menunjukan pukul 10 malam ... sebelum akirnya akupun tertidur....