1 Agt 2017

Bu Kost Nakal....

 Perkenalkan nama saya Rendi panggil aja rere, pertama saya crossdresser itu pas waktu duduk di bangku kelas 5 SD. Awalnya saya sering pakai pakaian dalam ibu saya sampai saya pas di rumah sering mengurung diri di kamar ibu saya. Kebiasaan itu berlanjut sampai saya lulus SD dan kegiatan itu tanpa sepengetahuan orang lain.

               Biasanya pas saya crossdressing dirumah saya hanya pake pakaian dalam ibu saya saja karena itu yang paling merangsang dengan ditambah pembalut yang lembut saya waktu itu belum kenal dengan namanya onani, tapi saya sering pegang penis saya dengan pelan-pelan dan begitu kenikmatan saatnya menyentuhnya.


                 Kegiatan itu pun berenti ketika saya lulus SD dan saya sekolah SMP diluar kota begitu pun SMA, akan tetapi pas awal masuk SMA ada sesuatu yang muncul di hati saya yaitu kerinduan saya untuk melakukan crossdesing. Pas SMA saya ngekost di luar kota dan saya mendapatkan tempat kost yang lumayan nyaman dengan harga yang terjangkau terjangkau.


                 Pas dikostan saya sering crossdresser menggunakan pakaian dalam ibu kost itu pun dengan sembunyi sembunyi, akhirnya pas kelas 2 SMA saya mulai berani untuk beli pakaian dalam wanita lewat toko online dan waktu itu juga saya beli obat-obatan yang mengenai obat hormon estrogen dan progesteron.

Nama ibu kostnya adalah Nita dia baru cerai sekitar setahun yang lalu dan dia belum punya anak beliau cerai gara-gara masalah yang rumit sehingga dia lebih untuk tidak menikah lagi. Ibu kost saya itu lumayan cantik kira-kira dia baru 26 tahun dia punya pd yang cukup besar yaitu sekita 32 C dan badanya begitu mulus.

              Ketika sore itu saya dapat pesan dari agen jasa pengiriman bahwa paketan saya itu sudah nyampai di kostan jadi saya langsung pulang dengan terburu-buru dan akhirnya paket saya tergeletak di depan pintu kamar saya.


               Dan saya langsung memakai di dalam kamar, yang saya pake pada waktu itu adalah lingerie yang berwarna hitam dan saya juga langsung minum pil hormon 3 pil sekali minum yaitu pil spirolactone, progynova dan pura femme.

               Setelah saya minum langsung saya nyoba onani dan ahhhh.... nikmatnya. toktoktok!!! suara dari pintu dan pintu langsung kebuka saya lupa pintu nya malah ga di kunci yang masuk ternyata si ibu kost dia langsung ngeliat dan malah senyum, terus saya ngejelasin sambil masih pake lingerie dan saya juga tak lupa masukin penis lagi. Si ibu kost malah bilang "wah kenapa ga pake dildo sekalian re" "enggak ah bu soalnya ga ada" jawab saya sambil senyum-senyum dan nutupi yang bawah pake bantal. "nanti ke rumah ibu ya soalnya ibu mau ngomong sama kamu, awas jangan lupa pake baju" kata si ibu kost sambil keluar kamar.

                Sontak saya langsung ketakutan, karena jika ibu kost lapor ke orang tua saya bisa-bisa saya kena marah karena ayah saya itu sangat disiplin dan keras, terus saya nyoba tenang dan pake pakaian biasa dan pergi ke rumah ibu kost saya yang ada di depan bangunan kostan. Setiba saya di rumah ibu kost, kami nyerita berbagai hal tentang keungan dan beras saya yang ada di ibu kost, di kira mau ngebahas apa sampai-sampai pas di rumah ibu kostnya saya keluar keringat dingin.

               Di akhir ceritanya si ibu kost, dia malah bilang "mau dikasih tau ke orang tuanya ga ?" sontak dalam hati saya langsung kaget "wah bu jangan dong saya mau ngelakuin apa saja deh asal jangan dikasih tau ke orang tua" balas saya dengan nada yang ketakutan, "yaudah berarti nanti kamu cuciin pakaian ibu tiap hari ya terus ibu juga pengen di pijet re nanti malam bisa ga?" jawab si ibu dengan merebahkan diri di kapet "iya bu bisa tapi jangan kasih tau juga ya ke yang lain soalnya kalo ketauan pasti bahaya bu" kata saya sambil menunduk "ok gapapa tapi jangan lupa yang tadi ya"

                  Saya langsung ke kamar dan langsung terdiam, kalo ketauan orang tua saya bisa bahaya nih pikir saya, terus saya kepikir pikiran si ibu kost bahwa si ibu ga bakal ngasih tau walaupun sedikit kurang percaya sih tapi karena si ibu kost sering baik jadi saya percaya aja, dan saya langsung nyoba cding lagi walaupun cuma pake daleman aja dan luarnya pake pakaian cowok kaya biasanya

Tante menjadikanku Wanita

Aku adalah seorang cowok sebut saja namaku I'in (nama panggilanku sekarang) yang mempunyai kebiasaan-kebiasaan aneh sejak kira-kira umur 11 tahun. Aku sangat suka memakai baju-baju cewek, make-up, dan aksesoris yang sering dikenakan para cewek. Aku pun juga sangat suka memakai pakaian dalam cewek seperti bra, panty, dan juga kamisol. Semua ini berawal sejak aku tinggal di rumah Tante Nia yang mempunyai usaha salon kecantikan di rumahnya.

Kebiasaanku yang aneh ini berawal semenjak kedua orang tuaku memutuskan untuk bercerai pada saat aku berusia 11 tahun. Setelah peristiwa itu, Papaku pergi dan tidak pernah kembali hingga sekarang. Tidak tahan dengan kondisi ekonomi, Mamaku kemudian menitipkan aku kepada Tante Nia (teman Mamaku) karena Mamaku ingin bekerja di luar kota untuk mencari penghasilan. Setelah Mamaku menyerahkan aku kepada Tante Nia, sejak saat itu aku jarang bertemu Mamaku. Mamaku pulang sebulan sekali hanya sekedar memberi uang kepada Tante Nia untuk mencukupi kebutuhanku dan setiap seminggu sekali Mamaku selalu menelponku hanya untuk tahu keadaanku. Sampai sekarang aku juga tidak tahu apa yang dikerjakan Mamaku di luar kota.

Dua bulan tinggal di rumah Tante Nia, aku merasakan hal-hal aneh. Aku jadi punya keinginan untuk berdandan seperti Tante Nia dan kedua pekerja di salon itu. Tetapi hasrat itu masih aku pendam karena di rumah Tante Nia tidak ada pakaian yang sesuai dengan ukuranku. Pakaian, bra, dan celana dalam wanita semuanya seukuran Tante Nia. Aku sangat sedih tapi bagaimana lagi, aku harus menahan semua ini.

Ternyata kesedihan yang aku rasakan tidaklah berlangsung lama. Ketika kami makan malam bersama Tante Nia menawari aku sesuatu yang menggiurkan dan inilah sebenarnya yang aku harapkan. Dia mengajak aku menghadiri pesta pernikahan temannya di sebuah hotel terkemuka minggu depan dan meminta aku untuk berdandan cewek seperti teman-temannya. Dari tawaran itu aku pun pura-pura mengajukan beberapa pertanyaan.

"Tante, kenapa aku harus berdandan seperti tante?" tanya ku.
"Ngga apa apa. Soalnya tante sudah pesan dua gaun pesta, yang satu untuk Tante dan satunya buat kamu." kata Tanteku. 
"Kan aku laki-laki Tante, rasanya tak mungkin aku bisa cantik seperti Tante." kata ku
.
Tante Nia berkata, "Jangan khawatir, itu semua yang mengatur Tante. Kamu bisa kok cantik, tapi nanti Tante sendiri yang mendandani kamu."
 
"Oke dech Tante kalau begitu." jawab ku.


Keesokan harinya Tante Nia mengajak ku berbelanja segala perlengkapan untuk ku seperti bra, celana dalam cewek, stocking dan sepatu dengan heels tinggi. Saat berbelanja, dia pun banyak memberikan saran-saran kepada ku tentang ukuran bra yang nyaman, jenis-kenis celana dalam cewek, sepatu heels tinggi dan stocking. Tapi aku menolak menggunakan sepatu dengan heels yang terlalu tinggi karena aku takut terjatuh saat berjalan di tengah-tengah pesta. Aku merasa belum begitu terbiasa dengan sepatu seperti itu sehingga aku memilih menggunakan sepatu dengan heels yang tidak terlalu tinggi.

Setelah membelajakan keperluan ku, Tanteku masih memilih milih kaos-kaos ketat baik yang tanpa lengan maupun dengan lengan berserta rok-rok pendek dan panjang. Ketika aku bertanya untuk siapa barang-barang itu, Tanteku menjawab, "Ya buat kamu. Kamu kan belum punya pakaian buat dipakai sehari-hari." Hatiku pun mulai mendesir mendengar perkataan Tanteku. Aku pun menjawab, "Iya deh Tante. Tidak apa-apa." "Kira-kira kamu mau tidak memakai baju-baju seperti ini di rumah?" tanya Tante. "Iya Tante." jawabku. Lalu Tanteku memilih lebih dari sepuluh kaos ketat baik dengan lengan dan tanpa lengan berikut sepuluh rok pendek dan panjang.

Setelah selesai, Tanteku dan aku menuju ke kasir untuk membayar semua itu dan kami langsung menuju ke mobil dan pulang. Didalam mobil, Tanteku baru memberikan alasan kenapa dia membelikan aku baju-baju cewek. Alasannya adalah Tanteku sangat menginginkan punya adik perempuan dan menurut pengamatan Tanteku postur tubuh dan bentuk face aku sangat mirip dengan cewek sehingga sangat cocok bila berdandan cewek. Aku pun memaklumi dan memparcayainya karena dia juga ahli dalam hal kecantikan. Tanteku juga berpesan agar aku tidak mengenakan pakaian cewek saat bersekolah. Akupun paham apa yang dijelaskan Tanteku tetapi dalam hatiku merasa senang karena walaupun tanpa alasan itupun aku sebenarnya ingin berpakaian seperti perempuan setiap harinya. Namun aku tidak menjelaskan isi hatiku kepada Tanteku.

Sesampainya dirumah Tanteku langsung menyuruhku menyimpan semua belanjaanku di almari bajuku. Tanteku menyuruh untuk mengeluarkan semua pakaian-pakaian laki-laki yang sudah usang dan tidak bisa dipakai lagi. Setelah selesai melakukan perintah Tanteku, aku disuruh mandi dan mulai memakai pakaian wanita yang dibelikan Tanteku tadi, dari bra, celana dalam cewek, kaos ketat, dan rok pendek. Setelah keluar dari Kamarku, Tanteku tersenyum padaku dan menarik tanganku menuju ke kamarnya untuk diberikan make-up secukupnya. Tanteku mengajari aku berdandan, seperti memakai bedak, lipstik, dan rambut tiruan (wig). Setelah selesai dia pun menghadapkan aku ke cermin dan meminta aku berkomentar. Akupun kagum setelah tahu hasil dandananku. Aku terlihat seperti seorang gadis yang cantik, bahkan Tanteku pun memuji aku juga. "Itu kan, kamu pun bisa secantik ini dan Tante yakin kalau kamu pergi keluar semua orang pasti akan menganggap kamu seorang gadis. Tapi ingat kamu harus bisa menjaga postur tubuh kamu yang seperti ini." kata Tanteku.

Lima hari berlalu aku pun merasakan kewanitaan dalam diriku, karena semua pelanggan di salon Tanteku memanggilku dengan sebutan "Adik I'in" atau "Mbak I'in" (nama yang dikenalkan Tanteku kepada dua pegawainya dan para pelanggannya). Hanya saja kalau bersekolah aku tidak diijinkan memakai seragam sekolah cewek oleh Tanteku, tapi dia memperbolehkan kalau hanya memakai celana dalam cewek dan kamisol cewek asalkan teman-temanku jangan sampai mengetahuinya. Namun, aku tetap mempunyai seragam sekolah cewek karena Tanteku juga membuatkan untukku. Itu hanya dipakai kalau Tanteku mengajak aku pergi pada saat jam-jam sekolah di saat aku ijin tidak masuk sekolah.

Setelah satu minggu tibalah saatnya Tanteku mengajak ku untuk menghadiri pesta perkawinan teman Tanteku. Aku pun bangun pagi-pagi benar segera mandi dan bersiap-siap. Setelah Tanteku tahu kalau aku sudah mandi, dia segera mengambil peralatan kosmetik dan mendandani aku. Selesai berdandan aku segera memakai gaun pesta yang sudah diberikan kepadaku.

(Ilustrasi Foto 1)
Aku tidak menyangka kalau aku terlihat benar-benar seperti cewek walaupun aku masih memakai rambut palsu (wig). Segera aku juga memakai stocking disertai sepatu dengan heels sedang. Aku sangat senang dan senang sekali melihat penampilanku. Tanteku pun juga sangat senang dan bahkan dia juga memujiku. "Kamu cantik sekali sayang. Pantas kok jadi anak perempuan Tante." kata Tanteku sambil tersenyum.

(Ilustrasi Foto 2)

Sementara menunggu Tante berdandan aku menunggu di depan rumah. Tak lama kemudian dua teman Tanteku datang dengan taksi dan menyapa ku, "Selamat pagi. Cantik sekali ... Kamu adiknya Nia ya?" sapa salah satu dari mereka. "Iya." jawabku asal-asalan. Mendengar sapaan seperti itu, buku kuduku berdiri, jiwa kelaki-lakianku hilang, dan muncul perasaan bahwa aku ini sama saja dengan mereka, yaitu seorang wanita. "Nia ada dik?" tanya salah satu dari mereka. "Ada Kak, tunggu saja. Dia sedang berdandan." jawab aku. Lalu mereka berdua minta ijin aku untuk masuk rumah dan aku mengijinkan mereka pula.

Kira-kira 15 menit Tanteku dan kedua temannya keluar dari rumah. Kemudian Tanteku mengingatkan aku untuk membawa tas kecil berisi tissue, lipstik, dan bedak yang sudah disiapkan Tanteku. Aku pun segera masuk rumah dan mengambilnya. Setelah itu Tanteku mengeluarkan mobilnya dan kami pun berangkat menuju tempat pesta. Di dalam mobil, kami berempat bercanda dan tertawa bersama. Kedua teman Tanteku sepertinya tidak pernah terbersit dalam benak hati dan pikirannya kalau aku ini adalah seorang cowok. Bahkan mereka berdua pun menanyai ku seputar kriteria cowok yang aku suka. Tanpa ragu, aku pun menjawab semua pertanyaan mereka. "Hmmmm ... ternyata seperti ini rasanya jadi cewek. Sungguh menyenangkan." hatiku berkata.

Setelah sampai di tempat pesta, kami berempat langsung menuju ke tempat duduk barisan khusus untuk tamu undangan wanita. Tanpa kusadari, saat menuju ke tempat duduk ada cowok-cowok seumurku yang memandangi aku terus hingga aku duduk. Di tempat pesta itu aku merasakan hal yang sangat istimewa dalam hatiku karena tidak ada satupun orang yang tahu kalau aku ini sebenarnya seorang cowok. Setelah pesta selesai, kami menyempatkan diri untuk berfoto-foto dengan pangantin bersama dengan Tanteku. Sambil menunggu teman-teman Tanteku berfoto-foto, ada seorang cowok seumurku yang mendekatiku dan mengajak ku berkenalan. Aku pun, seperti kebanyakan cewek lainnya, menanggapi ajakan perkenalan itu. Dia meminta nomor HP ku dan aku pun memberikannya. Ternyata dia adalah saudara pengantin perempuan dan kami berdua sempat foto bersama dengan menggunakan HP dia. "Hmmm ... sangat indah hari itu." kata hatiku.

Setelah selesai kami pun pulang, tak lupa Tanteku juga mengantar kedua teman-temannya ke rumah mereka masing-masing. Dalam perjalanan pulang Tanteku sempat menanyaiku beberapa pertanyaan.

"Tadi kamu kenalan sama cowok ya?" tanya Tanteku.
"Iya Tante. Hehehe ..." jawabku.
"Tadi kamu sempat foto bergandengan tangan juga kan. Hmm ... kamu suka dia ya?" tanya Tanteku.
"Hmmm ... aku kan harus menempatkan diriku sebagai cewek, jadinya aku mau aja diajak foto bergandengan tangan." jawabku sambil malu-malu.
"Tidak apa apa kok sayang, tapi kamu suka tidak sama dia?" tanya Tanteku lagi.
"Kalau aku cewek, aku suka dia karena dia juga cakep sih Tante." jawabku.
"Hehehehe ... pandai juga kamu memilih cowok." jawab Tanteku dengan tertawa lebar.

Setelah sampai di rumah, aku pun segera melepas gaunku dan membersihkan make-up ku seperti yang Tanteku ajarakan kepadaku. Aku pun segera mengenakan baju keseharianku, kaos ketat dan rok pendek. Sejak saat itu Tanteku, semua teman-temannya, dan kedua pegawai di salonnya menganggap aku cewek seperti halnya mereka. Aku berdandan sebagai cowok hanya saat bersekolah, selepas itu aku selalu berdandan sebagai cewek.

(cerita ini dikirim oleh I'in - Crossdresser)

Kencan dengan Debby

Akhirnya hari sabtu yang aku tunggu-tunggu tiba juga. Minggu ini sungguh sial. Gara-gara menghindar untuk kena razia rambut di sekolah, malah seminggu penuh aku disuruh pakai rok di sekolah. Kemarin hari jumat adalah hari terakhir masa hukumanku. Kemarin aku pakai rok panjang dan kerudung. Sungguh memalukan. Selama seminggu ini aku tidak berani menghubungi Debby. Begitu pun Debby, ia sama sekali tidak menghubungiku. Pagi ini aku mencoba mengingatkan janji kencan kami. Tapi tidak ada balasan darinya. Ketika makan siang, akhirnya sms yang aku tunggu-tunggu pun tiba. Dia menyuruhku untuk datang ke rumahnya sore ini. Aku sangat girang membaca smsnya itu. Jam 16 sore setelah selesai mandi aku langsung pergi ke rumah Debby. Setelah membunyikan bel, pembantunya menyuruhku menunggu di ruang tamu. Tidak ada siapa-siapa di rumah Debby sore itu. Debby kemudian menemuiku di ruang tamu sambil membawa secangkir teh hangat. "Udah siap??" tanya Debby kepadaku. "Sangat siap.. Kita pergi nonton kan??" jawabku. Debby menganggukan kepala. "Eh, kamu serius ga sama aku??" tanya Debby. "Harus gimana buktiin keseriusan aku??" tanyaku balik. "Klo gitu kita kencan tapi kamu pakai baju aku. Gimana??" Debby seolah menantangku. Aku hanya terdiam malu. Sepertinya Debby berusaha mengejekku karena kejadian aku dihukum guru di sekolah. "Tuh kan kamu ga serius. Aku minta gitu aja kamu ga mau." kata Debby seolah kesal. "Ya udah ayo ayo.." kataku. Aku sudah tidak memikirkan apa-apa lagi, yang penting bisa jalan bareng Debby, begitu yang aku pikirkan. Debby terlihat sangat senang melihat aku tunduk terhadap ancamannya. Aku melihat senyum sumringah di wajahnya. Dia kemudian mengajakku ke kamarnya. Di sana aku disuruh ganti baju di kamar mandi. Debby menyiapkan sebuah gaun terusan warna ungu yang berlengan panjang dan sebuah bra. Aku tidak tau cara memakai bra. Debby membantuku memakai bra. Terlihat dadaku menonjol seperti dada wanita. Debby kemudian memakaikanku kerudung dengan warna yang sama. Ia kemudian mendandaniku. Debby meminjamiku sepatu hak tinggi miliki Ibunya yang ukurannya sama dengan ukuran kakiku. Kami pun pergi ke mall untuk nonton. Kami pergi naik angkot. Di angkot jantungku berdetak sangat kencang takut ada yang mengenaliku sebagai pria. Aku tidak berani berbicara maupun menatap wajah Debby. Debby menenangkanku dengan memegang tanganku. Kami pun turun dan pergi nonton. Selama itu kami tidak saling berbicara. Aku terlalu takut untuk berbicara karena suaraku yang terdengar seperti pria tentu akan menimbulkan keanehan tersendiri. Debby kemudian mengajakku makan. Kami memilih tempat yang sepi di pojokan. "Gimana perasaan kamu??" tanya Debby. "Takut" jawabku singkat. "Tau ga knp aku ngajak kamu kencan pake baju cewe??" aku hanya menggelengkan kepala ketika mendengar pertanyaan Debby. "Abis kamu lucu sih" kata Debby. "Waktu aku liat kamu dihukum pake kerudung, kamu cute banget tau, jadi kepikiran deh ide jail ini. Maap yah" kata Debby. Kami pun melanjutkan perbincangan dengan berbagai cerita mulai dari masa SMP kami hingga menceritakan teman-teman kami di SMA. Setelah selesai makan, aku mengantar Debby pulang. Sampai di gerbang Debby langsung menutup pintu gerbang dengan jailnya. "Kamu pulang gitu aja yah, ga usah ganti baju." Spontan aku kaget dan memohon-mohon kepada Debby untuk membukakan pintunya. Dia hanya tertawa terbahak-bahak melihat aku yang sedang panik. Akhirnya setelah puas mengerjaiku Debby membukakan pintu gerbang. Aku melihat papah dan mamah Debby sedang nonton TV. Kembali aku gemetar menghadapi papah dan mamah Debby. Papah dan mamah Debby hanya tertawa melihatku. "Jadi ini cowo yang kamu ceritain." kata Papah Debby, aku hanya membalasnya dengan senyuman. "Sini ganti baju dulu" Debby menarikku ke kamarnya. Aku pun membereskan kerudung dan gaun yang tadi aku pakai. Tidak lupa Debby membersihkan makeupku. Setelah berganti dengan pakaian pria aku keluar kamar dan ngobrol dengan orang tua Debby. Rupanya Debby sudah menceritakan banyak mengenai aku ke Papah dan Mamahnya termasuk hukuman pakai rok yang aku terima. Setelah selesai ngobrol aku pun pamit pulang. Sungguh kencan yang menyenangkan. Aku beruntung punya wanita sebaik Debby.

Dihukum Guru

Waktu itu aku masih duduk di kelas 1 SMA. Aku menyukai rambut dengan model belah pinggir dengan poni yang dipanjangkan. Bagian belakang rambutku pun dipanjangkan agar menambahkan kesan keren di mata wanita. Dan itu terbukti benar, setelah beberapa minggu melakukan pendekatan dengan Debby, akhirnya aku berhasil merebut hati Debby. Debby selalu memuji penampilanku. Sabtu ini aku dan Debby akan pergi kencan untuk pertama kalinya. Ketika hari senin, sekolah kami seperti biasa melakukan upacara. Dan betapa kagetnya aku setelah upacara selesai ada razia rambut panjang. Seperti biasa ketika razia, siswa pria tidak diperkenankan memiliki rambut yang panjangnya melebihi aturan yang telah ditentukan oleh sekolah. Dan dengan model rambutku saat ini, jelas-jelas ini melanggar peraturan. Satu per satu pria dicek rambutnya dan yang tertangkap langsung dipotong dengan model yang tidak beraturan. Aku sangat panik, bagaimana mungkin aku pergi kencan dengan model rambut berantakan. Apa kata Debby nanti. Akhinya aku memutuskan untuk nekat melarikan diri. Aku lari ke arah yang berlawanan dengan arah guru melakukan razia. Salah satu guru mendapati bahwa aku melarikan diri. Dia spontan berteriak, "Hei kamu jangan lari.." beberapa guru lainnya melihat ke arahku dan mengejarku. Aku kalah jumlah sehingga hanya setelah berlari beberapa meter, aku ditangkap. Tapi aku tidak menyerah begitu saja. Aku melawan dan mencoba melarikan diri. Tanpa sadar ternyata aku mendorong beberapa orang guru dan beberapa di antaranya sampai terjatuh. Jelas itu memancing kemarahan guru. Guru olahragaku mengejarku dan memukulku tanpa ampun. Aku tergeletak di lantai dan dibawa ke ruang kesiswaan. Di ruang kesiswaan aku hanya tertunduk menyesali perbuatanku. Ibu Gina adalah guru BPku. Dia sangat cantik. Dia masih bisa tersenyum kepadaku. "Kenapa kamu mau lari??" kata Ibu Gina. "Saya takut rambut saya dicukur berantakan Bu" jawabku. "Kamu tau kamu salah??" tanya Ibu mencoba bersabar. "Iya Bu, saya tau. Maafin saya Bu." aku mencoba menjelaskan penyesalanku. "Ya udah, klo kamu ga mau dicukur, Ibu ga akan maksa qo." mendengar hal tersebut aku merasa sangat senang. Tidak sia-sia aku mencoba melarikan diri. Namun beberapa saat kemudian Ibu Gina melanjutkan perkataannya, "Sana kembali ke kelas. Tapi pake ini yah." Ibu Gina berkata kepadaku sambil menyodorkan sebuah bungkusan. Aku membuka bungkusan tersebut dan betapa kagetnya aku ketika melihat sebuah kemeja putih, rok panjang dan sebuah kerudung. Aku bingung dengan apa yang aku lihat. Kesenanganku tadi seolah sirna begitu saja. "Sana ganti baju dulu atau kamu saya skors karna perbuatan kamu." aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak mau aku kena skors. Aku pun masuk ke WC guru dan berganti di sana. Aku memakai rok panjang dan kemeja putih. Aku tidak tau cara memakai kerudung. Aku kembali ke ruangan Ibu Gina dan menjelaskan bahwa aku tidak bisa memakai kerudung. Ibu hanya tersenyum dan menyuruhku untuk duduk. Ibu kemudian membantuku memakai kerudung. Aku disuruh kembali ke kelas dan setelah pulang sekolah baru kembali ke ruang BP. Aku kembali ke kelas dengan tertunduk malu takut ada yang mengenaliku. Aku pun mengetuk pintu dan masih tertunduk malu, aku mendengar tawa terbahak-bahak dari teman-teman sekelasku. Aku tidak berani melihat kiri kananku dan langsung menuju bangkuku. Beberapa temanku menggodaku. Aku tidak berani melihat mereka. Dan apalagi Debby. Aku tidak berani melihat ke arah Debby. Ketika istirahat tiba, teman-temanku mengerumuniku dan menjaili aku. Aku sangat malu dengan perlakuan mereka. Ketika kelas kembali dimulai, beberapa guru pun menjailiku. Lengkap sudah aku dipermalukan hari itu. Begitu bel pulang berbunyi, aku langsung berlari ke ruang BP. "Aku menangis di depan Ibu Gina menyesali perbuatanku." Ibu Gina memelukku. "Sabar yah, besok ga usah pake kerudung lagi." kata Ibu Gina. Aku merasa lega dengan perkataan Ibu Gina. Tapi lagi-lagi ternyata perkataan itu belum selesai. "Besok ga usah pake kerudung lagi, besok pake rok yang pendek aja." aku langung lemas mendengar perkataan tersebut. Setelah ganti baju dengan celana panjangku, aku pun pulang. Keesokan harinya pagi-pagi aku mencoba menghindar berharap Ibu Gina lupa dengan hukumanku. Aku langsung masuk kelas. Di tengah pelajaran Ibu Gina memanggilku. Ternyata dia tidak lupa. Aku disuruh ke ruang BP. Aku kemudian mengganti celana panjangku dengan rok pendek yang telah disediakan Ibu Gina. Di sana aku dimarahi karena menghindar dari hukuman. Hukumanku pun diperpanjang menjadi 1 minggu. Selama satu minggu tersebut aku diharuskan memakai rok. Minggu yang benar-benar memalukan.

TERPAKSA IKUT

Akhirnya aku masuk SMA juga, walaupun SMA yang aku masuki adalah SMA swasta dan terletak di pinggiran kota, tapi aku senang bisa bersekolah disana. SMA Titrakencana adalah sebuah SMA yang kecil, jumlah siswa seangkatannya saja rata-rata hanya 30 orang. SMA Titrakencana memang SMA untuk orang-orang yang rata-rata dihuni oleh siswa pas-pasan, seperti aku.

Walaupun SMA ku ini kecil, tapi SMA ku ini terkenal sebagai SMA yang paling banyak menjadikan siswa didiknya dokter, walaupun kejayaan itu sudah berlalu 5 tahun lalu. SMA ku ini terkenal dengan ekstrakulikuler PMRnya, yaitu palang merah remaja. Tentu saja aku masuk kesana karena ingin menjadi dokter, mengikuti PMR, dan ingin mengembalikan kejayaan SMA ku ini sebagai salah satu SMA yang terkenal sebagai calon bakal dokternya.

Aku adalah Sandi, anak kelas X, dan kelasku adalah satu-satunya di angkatanku dan berjumlah 25 siswa termasuk diriku. Ekstrakulikuler PMR yang kuikuti juga hanya terdiri dari 9 orang, 4 orang berasal dari kelas XII yang bentar lagi lulus, 3 orang kelas XI, dan 2 orang dari angkatanku kelas X.
Sudah 3 bulan aku mengikuti PMR, aku cukup terkenal di PMR karena aku memang bercita-cita menjadi dokter dan aku banyak belajar tentang medic. Bulan depan pada pertengahan Desember setelah UAS tentunya, akan diadakan perlombaan PMR tingkat kabupaten dan kota, bila menang dapat mengikuti perlombaan setingkat provinsi, dan kalo menang lagi dapat mewakili provinsi untuk berlomba di tingkat nasional.

9 orang yang bergabung dalam PMR sekolahku akan dipilih menjadi 5 orang dan disyaratkan dengan komposisi 2 pria dan  3 wanita. Disanalah awal masalah dimulai, dikarenakan kelas XII bentar lagi akan mengikuti ujian nasional jadi kelas XII tidak diperbolehkan  mengikuti perlombaan tersebut, sangat disayangkan karena pada tahun lalu sekolah ku mewakili hingga tingkat provinsi dan kalah di tingkat nasional, semua itu berkat kontribusi kakak-kakak kelas XII, dan si kembar jenius Andre dan Andri dari kelas XI.

5 orang yang mengikuti lomba PMR tersebut sudah jelas pasti 3 dari kelas XI, dan 2 dari X. Kak Andre (XI), Kak Andri (XI), Ci Melisa (XI), dan Lia (X) sudah pasti mengikuti lomba tersebut, dengan begitu sudah terisi 4 slot, 2 pria dan 2 wanita, sangat disayangkan aku tidak bisa mengikuti perlombaan tersebut karena sisa 1 slot hanya disediakan untuk wanita.

Tinggal 2 minggu lagi sebelum perlombaan dimulai, tetapi tim PMR sekolahku masih kurang 1 siswa untuk mengikuti lomba tersebut dikarenakan tidak ada siswa yang mau dan tidak berkompeten. Hingga akhirnya diadakan rapat PMR untuk membahas tentang perlombaan ini.

Ci Lani (XII) yang merupakan ketua umum PMR sekolahku meminta masukan kepada seluruh anggota PMR untuk membahas tentang sisa 1 siswa wanita yang harus mengikuti lomba PMR untuk mewakili sekolah. Setelah 2 jam berdiskusi dan berdebat akhirnya Ci Melisa melontarkan ide gila untuk menjadikan diriku sebagai seorang siswi untuk mengikuti perlombaan.

“Aku mengusulkan Sandi untuk mengikuti perlombaan ini, dia kan badannya kecil, kurus lagi, juga tidak terlalu tinggi, bisa disamarkan dikit-dikit lah untuk mengikuti perlombaan PMR, gimana kalian setuju gak?” kata ci Melisa.

Akhirnya setelah diadakan voting, 8 suara setuju dengan usulan ci Melisa, hanya 1 orang yang tidak setuju yaitu diriku. Mau bagaimana lagi, akhirnya aku juga harus mengikuti hasil voting tersebut, demi mewakili sekolahku.

Esok harinya pada hari minggu aku pun diundang ke rumah ci Melisa, kebetulan sekali di rumahnya tidak ada siapa-siapa, karena kedua orang tuanya sibuk dengan usaha rumah makan mereka. Aku diundang jam 8 pagi, dan aku pun pergi ke rumahnya. Tentu saja sehari sebelumnya aku sudah disuruh untuk mempersiapkan diriku, dari mencukur bulu-bulu yang ada di wajah sampai seluruh badanku.

Sesampainya di rumah ci Melisa, ternyata sudah ada Lia juga disana. Aku pun disamput oleh mereka berdua. Dan dibawanya lah aku ke kamar ci Melisa. Kamarnya begitu cantik dengan nuansa warna pink, cewek banget lah kamarnya tuh, apalagi ditambah dengan aksesoris Hello Kitty, kawaii...

“San sekarang kamu ke kamar mandi dulu, terus bersihin muka kamu, sementara kita mempersiapkan alat-alat make up untuk ngebuat kamu jadi cantik” kata ci Melisa.

Aku pun pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya, tak menyangka di dalam kamar mandinya banyak kutemukan pakaian dalam dari celana dalam dan BH yang digantung. Aku pun penasaran, dan aku memegangnya, ternyata sensasi memegang BH itu sungguh lucu, empuk-empuk dan lembut gimana gitu ketika dipegang cupnya... Itu adalah pertama kalinya aku memegang BH. Keasikan meraba-raba pakaian dalam ci Melisa, pintu kamar mandi pun diketuk oleh Lia dan memberi tahu untuk segera keluar agar aku bisa segera di make-up.  

“Oke San, sekarang kamu cukup duduk di depan meja rias ini dan mendengarkan apa yang aku suruh yaaaa…. Jangan banyak gerak juga, kamu gak mau kan eyeliner ini menusuk ke bola matamu, hahahaha..” tawa ci Melisa.

Setelah beberapa menit, aku pun diberi foundation, concealer, bedak, eyeshadow tipis warna kecoklatan, eyeliner hitam tipis di mataku, dan lip gloss, aku merasakan sensasi yang tidak biasa, mukaku terasa berat, mungkin karena ini adalah pertama kalinya aku di make-up.

Dua puluh menit sudah berlalu, aku disuruh melihat ke depan cermin, dan betapa kagetnya aku dengan tampilanku. Mukaku menjadi putih, mungkin karena efek bedak, tapi terasa beda, terlihat menjadi halus seperti sutra. Yah jujur saja memang aneh melihat wajahku di make-up, tapi setelah di pasangkan wig panjang sebahu dengan poni rata depan, aku pun terkejut. Betapa cantiknya diriku, aku merasa secantik artis korea, mungkin aku bisa menjadi anggota JKT48 dengan kecantikanku.

“Sekarang kan sudah cantik, ayo buka baju kamu, baju aja lohhh… celananya gak usah dulu” suruh Lia.

Aku membuka bajuku, dan dipasangkannya BH kawat oleh Lia ke badanku, muncul perasaan nikmat tersendiri bagiku, serasa ada yang menekan di dadaku. Tidak hanya dipakaikan BH, BH nya pun disumpel dengan tissue agar tampak berisi.

“Mending ganti deh isinya jangan pakai tissue, coba pake celana dalamku deh, biar lebih berisi dan lebih nyata bentuknya” suruh ci Melisa ke Lia.

Sementara Lia memasangkan BH pada badanku, ci Melisa sudah menyiapkan beberapa baju dan dress untuk kucoba. Aku pun mencoba satu persatu sesuai arahan ci Melisa dan Lia. Aku merasa seperti sedang menjadi model fashion show karena disuruh-suruh gonta ganti banyak baju.

Setelah satu jam lebih mencoba-coba banyak baju, Lia dan ci Melisa telah memutuskan baju mana saja yang akan aku bawa nanti selama 4 hari acara lomba tersebut. Dari baju casual sehari-hari, celana jeans, rok mini, hotpants, baju tidur, dress, hingga pakaian dalam dipersiapkan. Beruntungnya diriku memiliki ukuran kaki yang sama dengan Lia, entah aku yang beruntung atau memang ukuran kaki Lia yang besar untuk seorang wanita, sehingga diriku dapat dengan pas menggunakan sepatu-sepatunya. Aku pun diberi pinjam alat-alat make-up dan wig yang kukenakan untuk kupelajari cara menggunakannya agar aku terbiasa. Pokoknya semua kebutuhan ku untuk menjadi wanita sudah dipersiapkan oleh mereka berdua. 

Tidak lupa mereka mendokumentasikan apa yang terjadi pada saat itu, mereka melakukan selfie dengan ku, dan banyak sekali mereka ngefoto diriku dengan berbagai pose dan pakaian, dari pas foto, foto dengan baju casual sehari-hari, gaya-gaya nakal, bahkan dengan busana dress untuk pesta. Tentu saja bila aku melakukannya, karena bila aku tidak menurut, aku diancam foto-fotoku ini akan disebar oleh mereka... ohhh malangnya nasibku....


10 Mei 2013

FANTASI BH TANTE DAN KEPONAKANYA

     waktu aku smp aku tinggal bersama om ku disebuah kota aku baru lulus sd  di sebuah desa di ajak sama om agar masuk smp di  kota tempatnya bekerja.akupun diberikan sebuah kamar yang terletak di dekat dapur rumah omku mempunyai 3 kamar saja selain kamar om dan tante ada kamar kak yulli  yang merupahkan keponakan dari tanteku. kak yulli waktu itu sudah semester 3  di sebuah ptn di kotaku. aku sangat bahagia  sekali sebab selama 6 bulan  berjalan keluarga om ku sangat baik  kepadaku begitupun kak yulli
kak yulli sudah anggap aku sebagai adiknya  aku sangat senagng dengan perlakuan ka yulli apalagi di sangat cantik tubuhnya semok dia agak pendek tapi  yang membuat aku bahagia adalah tetek ka yulli begitu besar, pada suatu hari aku kebelet pipis tapi kak yulli lagi pakai kamar mandi dan lagi mandi aku terpaksa tuggu setelah kak yulli  keluar langsung aku masuk dengan cepat ke dalam kamar mandi selagi aku pipis aku melihat BH  kak yulli  lagi di gantung  di kamar mandi darah jantanku mulai berdesis melihat bh dlam ukuran besar dan wangi badan orang yang pakai tergantung di sana akupun mengambil bh tersebut dan memegangnya di stu trlihat ukuran bh ternyata ukuran bh kak yulli 36 c entah apa yang masuk membisikiku sehingga akupun mulai memakai bh kak yulli dan aku berfantasi bahwa dirriku kak yulli sambil meremas-remas bh berkawat dan bermotif seperti kebaya itu sambil aku kocok penisku dan spermanya kutumpakan kedalam cdnya setelah selesai aku keluar dan aku mersakan ingin sekali menjadi seperti kak yulli miempunyai payudara besar dan memakai baju yang sangat ketat. mulai saat itu akau selalu masuk ke kamar mandi setelah kak yulli mandi agar aku bisa  berfantasi dengan bhnya bh kaka yuli bentuk dan motifnya berbeda tapi ukuran nya sama 36 c dan berkawat. suatu hari ada pernikahan keluarga tanteku di kampung sehingga om dan tante di temani kak yulli ke kampung selama satu hari esok siang baru mereka pulang sehingga akun di tugaskan untuk menjaga rumah aku senag sekali mendengarnya setelah mereka pergi kira2 jam 8 pagi kebetulan hari itu lagi libur aku masuk ke ke kamar ka yuli dan membuka lemari pakaianya ternyata banyak bh dan cd g string di sana  jantungku berdegup kencang tanganku gemetaran aku merasa 2 hari aku bakalan berfantasi jadi wanita  akupun teringat akan tanteku segere aku kemar tanteku dan membuka di lemari pakaian dalam dan melihat banyak juga bh tanteku dan g stringnya di lemari pakaianya aku lihat juga stoking karena kebetulan tanteku kerja di sebuah bank. hari itu akumencoba menjadi kak yulli aku pakai bh dan cd serta  baju ketatanya bh aku masukin tiga sekaligus duanya sebagai payudara dan satunya fungsi tetap sebagai bh sehingga aku kelihatan montok alias semok aku kemudian pakai celana ketatnya kak yulli dan sepatu hak tinggi punya tanteku kemudian aku berfantasi sambila nonton flim porno sampai sore  dengan menggunakan pakaian kak yulli dari pagi sampai sore kontolku  mengeluarkan pejunya  3 kali karena aku onani sambil berfantasi,pada malam hari setelah makan aku mencoba jadi tanteku dengan memakai bh tante ukuran 36 b lebbih kecil dari kak yulli dan memakai blazer tante serta stoking  aku seperti kariawan bank beralan lenggak lenggok di dalam rumah sendirian untuk menutupi rambutku aku sngaja menggunakan jilbab,malam itu aku satu kali mengelluarkan peju  dan aku pun tertidur setelah menaggalkan baju tante aku tidur hanya mengenakan bh tante dan cd nya tante diatas tempat tidur yang penuh dengan bh kak yulli.
keesokan harinya aku  mengemblikan semua ketempatnya dan menungu kedatangan omku dari kampung setelah paengalaman waktu itu aku selalu melakun cding tanpa sepengetauan om sek dan aku baru tau kalo ada orang sepertiku di bumi ini setelah perkenmbangan internet
catatan" SETIAP KALI AKU MELIHAT WANITA TETEK GEDE AKU SELALU INGIN MENGAMBIL BH NYA"
sampai sekarang aku menjadi maniak bh, aku ingin bercerita lagi tentang pengalamanku sampai saat ini tapi mungkin besok atw lusa ini sebagai perkenalanku dengan teman2 cdr buat admin semoga aku bisa jadi member!,,,,,hehehehehhe please
terima kasih semuanya!.....................

14 Apr 2013

"Masuk SMK Kecantikan"

Masih di salon Tante Susi, aku mendengarkan sebuah cerita menarik dari Tina. Tina adalah salah seorang pegawai Tante Susi. Tina merupakan seorang hair stylist dan penata rias kesayangan Tante Susi. Dia dulunya adalah seorang cowo normal seperti aku. Dia menceritakan masa lalunya sampai bagaimana ia bisa bekerja di salon. “Dulu aku ditinggal oleh papah dan mamahku.” Tina memulai ceritanya. “Papah dan mamah meninggal karena kecelakaan, Tante Susi adalah sahabat mamah. Karena tidak ada keluarga yang menerima aku, akhirnya Tante Susi memutuskan untuk merawat aku.” kata Tina mengingat masa lalunya. “Ia merawat aku sejak kelas 5 SD hingga aku SMP. Ketika aku mau memilih masuk SMA, tante Susi menyarankan aku agar masuk SMK, tujuannya adalah agar aku dapat memperoleh keahlian khusus di sana. Aku pun melihat daftar jurusan-jurusan

­ yang terdapat di SMK bersama Tante Susi. Mulai dari otomotif, teknik mesin, teknik elektro, akuntansi, dan yang paling menarik perhatian Tante Susi adalah jurusan kecantikan. Saat itu Tante Susi menyarankan aku untuk memilih jurusan tersebut agar aku dapat membantunya di salon. Sebenarnya aku agak keberatan namun aku merasa tidak enak sama Tante Susi karena selama ini ia telah banyak merawat aku. Aku meminta waktu kepada Tante Susi untuk berpikir. Tante pun mengiyakan.”, Tina kemudian berhenti sejenak lalu ia kembali melanjutkan, “Keesokan harinya aku melihat pekerjaan di salon banyak berhubungan dengan wanita-wanita cantik. Itu juga yang menjadi motivasiku, kupikir di SMK Kecantikan nanti pasti ada banyak wanita-wanita cantik. Aku pun datang kepada Tante Susi dan mengatakan bahwa aku bersedia untuk masuk ke sana. Tante Susi pun terlihat bahagia mendengar keputusanku. Akhirnya kami pergi mendaftar dan saat pengumuman penerimaan siswa baru aku diterima di sana.” Tina mengambil segelas air dan kemudian meminumnya. Ia terlihat seperti wanita sungguhan. Dengan menggunakan baju tanpa lengan dan rok pendek, ia terlihat lebih feminim. “Saat ospek semuanya berubah. Ospek di SMK dibagi menjadi 2 tahap. 
 Tahap pengenalan lingkungan dan masa adaptasi siswa.” Tina tiba-tiba melanjutkan ceritanya. “Ketika hari pertama aku masuk ke sana, aku melihat kakak kelasku sangat galak. Peraturan pertama adalah ‘Tidak peduli latar belakang kalian apa, kalian adalah satu kesatuan, kami tidak mau membeda-bedakan­ siapa kalian, pokonya kalian satu’” Tina mencoba menirukan gaya kakak kelasnya. “Nah, kamu tau ga salah satu aturan yang mereka terapkan selama ospek adalah mereka masih menggunakan seragam SMP sampai masa pelantikan. Aku sih oke” aja tapi ternyata kakak kelas tersebut memanggilku dan mengatakan peraturan ini berlaku untuk pria dan wanita. Kamu diharuskan menggunakan rok SMP dan juga menggunakan make up. Tujuannya agar kamu terbiasa dengan benda-benda yang berhubungan dengan wanita. Mendengar peraturan tersebut aku pun langsung lesu. Parahnya lagi, kami tidak diperkenankan untuk membawa baju ganti, jadi dengan kata lain rok tersebut harus dipake dari rumah. Aku pulang ke rumah dan menceritakan semuanya ke Tante Susi. Tapi tante justru hanya menertawakan saja dan berjanji akan membantu.
 Beberapa hari sebelum ospek dimulai tante mengajakku ke pasar untuk mencari rok smp. Tante membelikanku 2 buah rok SMP. Yang satu adalah rok pendek, dan yang satu lagi rok panjang rample. Tante juga mengajakku untuk membeli kerudung warna putih dari bahan satin. Hari ospek pun tiba, lalu aku memakai rok pendek SMP. Tante melihat ada yang salah, payudaraku tidak terlihat, ia kemudian membawa bra dan memasangnya di dadaku. Aku merasa risih, tapi belum cukup sampai di situ tante melanjutkan dengan bedak dan lipstik di wajahku. Aku pun berangkat untuk ospek. Pada hari jumat aku menggunakan rok SMP panjang lengkap dengan kerudung yang sudah dibeli oleh Tante Susi. Selama 2 bulan aku memakai rok ke sekolah. Akhirnya masa ospek berakhir dan aku terbebas dari rok. Begitu pikirku, namun ternyata SMK Kecantikan tetaplah SMK Kecantikan. Selama 3 tahun sekolah aku selalu berhubungan dengan baju wanita dan makeup. Aku dituntut untuk tampil cantik. Sekalipun aku adalah seorang pria sejati.”
“Setelah masa ospek berakhir, aku berpikir sudah selesai aku diperlakukan sebagai seorang wanita. Ternyata itu belum selesai. Selama 3 tahun sekolah di sana aku selalu berhubungan dengan pakaian wanita dan dituntut untuk tampil cantik. Sekalipun aku adalah seorang pria sejati.” kata Tina menceritakan masa-masa SMKnya. “Selesai masa ospek, aku dipanggil oleh salah seorang guru. Ternyata dia adalah bagian kesiswaan. Guru tersebut menerangkan bahwa selama sekolah nanti aku akan selalu berhubungan dengan tata busana, tata rambut, dan tata rias. Dia kemudian menyarankan untuk memanjangkan rambutku seperti wanita, agar memudahkan dalam pelajaran praktek. Sebagai siswa pria aku diijinkan memiliki rambut panjang dengan catatan, aku ke sekolah menggunakan rok layaknya seorang wanita.

 Wajahku langsung pias mendengar peraturan tersebut. Tapi guru tersebut memberiku semangat karena semua ini untuk tujuan yang baik supaya aku terbiasa. Aku pun bersedia mengikuti aturan tersebut. Aku menceritakan peraturan tersebut kepada Tante Susi dan Tante kemudian membelikan rok SMA yang pendek dan yang panjang untuk aku gunakan sehari-hari. Hari demi hari aku lalui. Aku selalu ke sekolah menggunakan rok dan mulai terbiasa menggunakan rok. Rambutku pun tumbuh mulai panjang. Tante Susi selalu membantuku untuk menata rambut. Aku mulai terlihat seperti wanita ketimbang pria. Pada saat ujian praktek, aku kebagian tema wanita kantoran. Aku dan pasanganku harus bergantian saling mendandani. Hari itu aku menggunakan blazer dan rok warna hitam, tidak lupa aku memakai sepatu high heels. Kami bergantian saling mendandani dan akhirnya kami mendapatkan nilai yang baik. Begitu lulus aku diminta Tante Susi untuk membantu di salonnya. Awalnya aku membantu dengan berpenampilan sebagai seorang pria, tapi entah kenapa mungkin karena selama 3 tahun selalu berpenampilan sebagai seorang wanita aku merasa risih menggunakan pakaian pria. Aku pun menceritakan keluhanku kepada Tante Susi, Tante Susi mempersilahkan aku untuk berpenampilan sebagai wanita jika aku memang nyaman. Akhirnya semenjak saat itu aku selalu tampil sebagai seorang wanita.”

Bu Kost Nakal....

 Perkenalkan nama saya Rendi panggil aja rere, pertama saya crossdresser itu pas waktu duduk di bangku kelas 5 SD. Awalnya saya sering paka...